BANDA ACEH — Sektor pertambangan batubara kembali menunjukkan peran strategisnya bagi perekonomian Aceh. Berdasarkan data kepabeanan, sepanjang tahun 2025, batubara menyumbang devisa hingga Rp6,98 triliun atau setara 64 persen dari total penerimaan ekspor daerah yang mencapai Rp10,84 triliun.
Angka tersebut menegaskan bahwa ketergantungan ekonomi Aceh pada satu komoditas ekstraktif masih sangat tinggi. Meski begitu, volume pengiriman justru menunjukkan tren positif pada tahun berikutnya.
Memasuki tahun 2026, aktivitas ekspor batubara Aceh kian menguat. Kanwil DJBC Aceh mencatat, selama periode Januari hingga Mei 2026, volume ekspor batubara dari Aceh mencapai 5,38 juta ton dengan nilai devisa sebesar Rp3,11 triliun.
Capaian ini menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Angka tersebut melampaui periode yang sama di tahun 2025 yang mencatat ekspor sebanyak 5,26 juta ton dengan devisa Rp2,86 triliun. Sebagai perbandingan, pada 2024 volume ekspor batubara Aceh hanya mencapai 3,24 juta ton dengan nilai devisa sekitar Rp2,03 triliun.
Meskipun volume pengiriman tahun ini memecahkan rekor, nilai devisa tertinggi dalam lima tahun terakhir justru tercatat pada 2022. Saat itu, ekspor batubara Aceh sebanyak 3,74 juta ton mampu menghasilkan devisa hingga Rp3,31 triliun.
Tingginya nilai tersebut dipengaruhi oleh lonjakan harga batubara di pasar global pada periode tersebut. Kepala Kanwil DJBC Aceh menyebut data ini menunjukkan kemampuan operasional serta ketangguhan sektor pertambangan Aceh di tengah dinamika harga pasar global.
“Volume pengiriman terus menunjukkan tren pemulihan dan bahkan mencetak rekor baru. Ini mencerminkan kemampuan operasional serta ketangguhan sektor pertambangan Aceh di tengah dinamika harga pasar global,” ujarnya.
Selama ini, aktivitas ekspor batubara Aceh didominasi oleh dua perusahaan besar, yakni PT Mifa Bersaudara dan PT Bara Energi Lestari. Namun, pada tahun 2026 muncul pelaku baru yang turut berkontribusi, yaitu PT Media Djaya Bersama.
Masuknya pemain baru ini dinilai sebagai sinyal positif bagi iklim investasi di sektor pertambangan Aceh. DJBC Aceh berharap data ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi para pemangku kepentingan dalam menyusun strategi pengembangan industri pertambangan dan peningkatan nilai tambah komoditas batubara di masa mendatang.