BANDA ACEH — Seratusan warga binaan Lapas Kelas IIA Banda Aceh mengikuti sosialisasi pencegahan penularan hantavirus yang digelar bekerja sama dengan Puskesmas Ingin Jaya, Kamis (20/3). Kegiatan ini menghadirkan dokter Nia Maisarah dari Puskesmas setempat sebagai narasumber.
Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat, terutama tikus liar. Penularan terjadi saat manusia menghirup partikel debu yang sudah terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus. Dalam kasus berat, infeksi ini bisa menyebabkan demam berdarah dan gagal ginjal akut.
Nia Maisarah mengungkapkan, hantavirus sudah terdeteksi di Indonesia sejak dekade 1980-an melalui tikus-tikus rumah. Namun, kasus yang tercatat masih sporadis. Beberapa waktu lalu, sejumlah warga Indonesia tertular saat berada di kapal pesiar. Dari delapan orang yang terjangkit, tiga di antaranya meninggal dunia, dua dirawat intensif, dan tiga lainnya hanya mengalami gejala ringan.
"Proses penularannya melalui kontak langsung dengan tikus, urine, feses, atau debu yang terkontaminasi. Bisa juga melalui gigitan hewan pengerat yang terinfeksi," jelas Nia di hadapan warga binaan.
Dokter Puskesmas Ingin Jaya itu menambahkan, gejala hantavirus baru terlihat antara satu hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar. Sayangnya, hingga saat ini belum ada pengobatan spesifik untuk virus ini. Vaksin sedang dikembangkan di Korea Selatan dan China.
Kepala Lapas Kelas IIA Banda Aceh, Akhmad Heru Setiawan, menekankan bahwa kesehatan merupakan prioritas fundamental bagi warga binaan. "Kami mengajak seluruh warga binaan mengikuti sosialisasi ini dengan sungguh-sungguh, agar lebih mengenali penyakit yang disebabkan hantavirus, proses penularannya, dan cara mencegahnya," ujarnya.
Nia Maisarah merekomendasikan sejumlah langkah pencegahan yang bisa diterapkan di lingkungan lapas. Pertama, membiasakan diri mencuci tangan dengan air dan sabun secara rutin. Kedua, menjaga kebersihan lingkungan, terutama dari keberadaan tikus. Ketiga, memastikan bahan makanan dan alat pengolahannya tetap bersih.
"Pantau kesehatan secara berkala dan segera laporkan jika muncul gejala yang mencurigakan," kata Nia.
Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya preventif Lapas Kelas IIA Banda Aceh untuk mengantisipasi potensi penularan penyakit di tengah hunian padat. Dengan kapasitas yang kerap melebihi daya tampung, kebersihan dan kewaspadaan terhadap penyakit menular menjadi perhatian serius pihak pengelola.