ACEH — IPO SpaceX yang sudah lama ditunggu akhirnya tiba. Laporan keuangan yang diajukan ke regulator menunjukkan penawaran saham perdana perusahaan roket milik Elon Musk itu kebanjiran pesanan, dengan beberapa investor institusi memborong blok saham senilai Rp 156 triliun. Valuasi Rp 1.170 triliun yang dipatok bankir investasi SpaceX nyaris dua kali lipat dari estimasi paling optimis analis independen.
Dua analisis keuangan yang dirilis pekan ini memberi gambaran lebih realistis. Morningstar, firma riset keuangan, menilai SpaceX hanya layak dihargai Rp 825 triliun. Sementara Aswath Damodaran, profesor keuangan NYU yang spesialis valuasi perusahaan, memberi angka Rp 1,2 triliun.
Morningstar menyebut selisih Rp 72 per saham antara harga wajar versi mereka (Rp 63) dan harga IPO (Rp 135) sebagai "call option murni". Artinya, investor membayar mahal untuk taruhan bahwa SpaceX bisa membangun pusat data di orbit dengan kecepatan dan kapasitas yang diyakini Musk.
Dalam video wawancara yang dirilis SpaceX pekan ini, Musk memaparkan arsitektur pusat data orbital perusahaannya. Targetnya: kapasitas komputasi AI setara 1 gigawatt per tahun pada akhir tahun depan. Untuk mencapai itu, SpaceX harus memecahkan tiga teka-teki teknik sekaligus.
Pertama, roket yang bisa dipakai ulang. Ini sudah berjalan lewat program Falcon 9 dan Starship. Tanpa ini, biaya peluncuran satelit ke orbit tidak akan pernah ekonomis.
Kedua, pabrik chip buatan AS baru. SpaceX butuh pasokan chip AI dalam jumlah masif, dan Musk tidak mau bergantung penuh pada TSMC atau Samsung yang berbasis di Asia.
Ketiga, produksi satelit supercepat. Musk memperkirakan setiap satelit AI miliknya bisa mengirim daya maksimal 150 kW. Untuk mencapai target 1 GW/tahun, SpaceX harus memproduksi 6.666 satelit per tahun, atau 556 unit per bulan. Angka itu dua kali lipat dari kapasitas produksi Starlink saat ini yang baru 70 unit per minggu.
Dokumen S-1 SpaceX mengidentifikasi peluang terbesar perusahaan justru di enterprise AI, bukan luar angkasa. Pasar untuk model AI yang bisa menggerakkan coding tools dan agen digital pekerja kantoran ditaksir mencapai Rp 22,7 triliun. Bandingkan dengan pasar infrastruktur AI yang hanya Rp 2,4 triliun dan bisnis antariksa di bawah Rp 2 triliun.
Tapi ada kontradiksi. SpaceX baru-baru ini menjual kapasitas komputasi dalam jumlah besar ke Anthropic dan Google — dua perusahaan yang justru menjadi kompetitor di bisnis model AI. "Ini seperti SpaceX meluncurkan satelit untuk pesaing Starlink-nya sendiri," kata seorang analis yang enggan disebut namanya.
Strategi "neocloud" ini menguntungkan jangka pendek, tapi menimbulkan pertanyaan besar: apakah lebih baik jadi penyedia komputasi atau pembangun model AI? Logika skala di industri AI memaksa laboratorium frontier untuk terus melatih model baru yang lebih kuat. Siapa yang tidak berlari kencang akan tertinggal.
Musk yakin pusat data di orbit adalah satu-satunya cara untuk menyediakan komputasi dalam volume raksasa tanpa kendala lahan dan listrik di Bumi. Argumennya: SpaceX adalah satu-satunya perusahaan yang bisa menempatkan massa besar di orbit dengan murah, membangun panel surya dalam jumlah banyak, dan memproduksi chip dalam volume tinggi.
"Ini bukan janji," tegas Musk dalam video tersebut. "Ini adalah apa yang akan kami coba lakukan, dan kami pikir kami mungkin bisa melakukannya."
Para ahli industri memperkirakan pusat data orbital skala besar masih butuh waktu sekitar satu dekade lagi. Tapi Musk, dengan segala catatan, mengatakan waktunya bisa jauh lebih dekat. IPO ini pada dasarnya adalah taruhan apakah ia bisa membuktikannya.
Catatan: Kurs yang digunakan dalam artikel ini adalah Rp 16.500 per USD, sesuai estimasi pasar saat IPO diumumkan.