BANDA ACEH — Di tengah maraknya isu gizi buruk dan penyakit menular di lingkungan sekolah, MIN 27 Aceh Besar justru tampil dengan pendekatan berbeda. Madrasah ini tidak hanya mengandalkan guru atau petugas kesehatan, tetapi juga melibatkan siswa sebagai agen perubahan melalui program Dokter Kecil (Dokcil).
Para siswa yang tergabung dalam Dokcil dilatih untuk mengedukasi teman-temannya tentang cara mencuci tangan yang benar, menjaga kebersihan diri, dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Pembinaan mereka dilakukan bekerja sama dengan Puskesmas Ingin Jaya, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, UIN Ar-Raniry, Universitas Muhammadiyah Aceh, dan Poltekkes Kemenkes Aceh.
Setiap hari Sabtu, siswa dibiasakan membawa bekal dengan menu beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA). Kebiasaan ini bukan sekadar formalitas, melainkan upaya konkret untuk mendukung pertumbuhan optimal anak. Selain itu, penjaringan kesehatan rutin dilakukan bersama Puskesmas Ingin Jaya.
Madrasah juga memastikan seluruh makanan yang dijual di Kantin Sehat Nadhifah berasal dari pedagang yang telah mengantongi sertifikat halal. Langkah ini diperkuat dengan kebijakan yang menjadikan status imunisasi sebagai salah satu syarat penerimaan peserta didik baru.
Untuk mendukung lingkungan yang berkelanjutan, MIN 27 membentuk Tim G-SELL (Gerakan Siswa Peduli Lingkungan). Mereka bertugas mengedukasi soal pemilahan dan pengolahan sampah, ditambah kegiatan seperti gerilya sampah, penghijauan, dan penciptaan lingkungan madrasah yang asri.
Naswati menambahkan bahwa madrasah memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan konten kesehatan kepada siswa, orang tua, dan masyarakat. "Berbagai konten kesehatan diproduksi secara rutin untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya perilaku hidup sehat," ujarnya dalam forum tersebut.
Berkat inovasi-inovasi ini, MIN 27 Aceh Besar meraih sejumlah penghargaan, antara lain Sekolah Sehat Kabupaten Aceh Besar Tahun 2023, Madrasah Ramah Anak Terstandarisasi Nasional Tahun 2023, serta Madrasah Berprestasi Tingkat Provinsi Aceh pada 2023 dan 2024. Naswati berharap praktik baik ini bisa direplikasi oleh sekolah dan madrasah lain di Aceh melalui kolaborasi lintas sektor.