BIREUEN — Bupati Bireuen Ir. H. Mukhlis, S.T membuka secara resmi program Integrasi Layanan Primer Kabupaten Bireuen 2026. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 14 hingga 16 Oktober 2026, di Aula Hotel Bireuen Jaya dengan 101 peserta yang dibagi ke dalam tiga gelombang.
Gelombang pertama diikuti unsur lintas sektor, Dinas Kesehatan, kepala puskesmas, dan kecamatan. Gelombang kedua dan ketiga pada Kamis-Jumat, 15-16 Oktober 2026, diisi kepala puskesmas dan penanggung jawab klaster puskesmas.
Dari Pelayanan Berbasis Penyakit ke Siklus Hidup Manusia
Mukhlis menyebut ILP bukan sekadar program baru, melainkan perubahan paradigma pelayanan kesehatan di tingkat dasar. Selama ini pelayanan cenderung berorientasi pada penyakit yang sedang diderita pasien.
"Jika selama ini pelayanan kesehatan cenderung berdasarkan penyakit, maka melalui ILP, pelayanan akan difokuskan pada siklus hidup manusia mulai dari masa kehamilan, balita, remaja, dewasa, hingga lansia," jelasnya.
Perubahan itu menyasar layanan kesehatan dasar agar lebih cepat, tepat, dekat, dan ramah bagi seluruh lapisan masyarakat Bireuen tanpa terkecuali. Penerapan ILP mengacu pada pilar pertama transformasi sistem kesehatan yang diamanatkan Kementerian Kesehatan RI.
Posyandu Meunasah Dayah Jadi Acuan Replikasi
Pemkab Bireuen menyoroti Posyandu ILP di Meunasah Dayah, Kecamatan Peusangan, yang dinilai sukses menjalankan program dan mendapat perhatian langsung tim penilai Kemenkes RI. Mukhlis meminta keberhasilan itu direplikasi ke gampong lain.
"Kita patut mengapresiasi beberapa gampong di Bireuen, seperti Posyandu ILP di Meunasah Dayah, Kecamatan Peusangan, yang telah sukses menjalankan dan mendapatkan perhatian positif langsung dari tim penilai Kemenkes RI," sebutnya.
Tiga Instruksi Bupati: Alur Layanan, Dana Desa, dan Kader
Mukhlis menekankan tiga hal kepada jajaran terkait. Pertama, Dinas Kesehatan dan kepala puskesmas diminta segera menata alur pelayanan sesuai klaster siklus hidup dan memastikan seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama siap menerapkan konsep ILP secara optimal.
Kedua, camat dan keuchik diminta memberi dukungan penuh terhadap operasionalisasi Pustu dan Posyandu ILP di wilayah masing-masing. Pemanfaatan dana desa diarahkan untuk mendukung kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
Ketiga, kader Posyandu disebut sebagai ujung tombak di lapangan. Mukhlis meminta kapasitas dan keterampilan kader terus ditingkatkan karena skrining kesehatan warga secara berkala menjadi kunci deteksi dini berbagai masalah kesehatan.
"Ketiga, kepada para kader Posyandu, Anda adalah ujung tombak kami di lapangan. Teruslah tingkatkan kapasitas dan keterampilan, karena peran aktif para kader dalam melakukan skrining kesehatan warga secara berkala adalah kunci keberhasilan mendeteksi dini berbagai masalah kesehatan," pesannya.
Kadis Kesehatan: Perkuat Koordinasi Lintas Sektor
Kepala Dinas Kesehatan Bireuen dr. Irwan melaporkan, kegiatan ini digelar untuk memperkuat pelaksanaan ILP melalui peningkatan koordinasi dan kolaborasi lintas sektor. Pelayanan kesehatan primer diarahkan agar terpadu dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat sepanjang siklus hidup.
Menurut Irwan, pertemuan ini bertujuan meningkatkan pemahaman lintas sektor soal kebijakan dan pelaksanaan ILP. Koordinasi antara Dinkes, puskesmas, kecamatan, dan perangkat desa ikut diperkuat.
"Dan mendukung pelaksanaan ILP agat pelayanan semakin Mudah di akses oleh Masyarakat," ujarnya.
Mukhlis menutup arahan dengan menekankan kolaborasi dan sinergi semua pihak sebagai syarat keberhasilan integrasi layanan primer di Kabupaten Bireuen.