ACEH TIMUR — Hujan intensitas tinggi selama beberapa hari terakhir di wilayah Aceh dan Sumatera Utara memicu banjir di sejumlah daerah pedalaman. Dua titik terparah berada di Desa Pante Kera, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, dan Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang.
Humanitarian Coordinator Yayasan Geutanyoe, Nasruddin, menyebut jumlah warga terdampak di Gampong Pante Kera terus bertambah. Data yang dihimpun relawan lapangan hingga Ahad, 12 Oktober 2026, mencatat 116 KK telah mengungsi ke tempat lebih aman.
"Data yang kami terima dari relawan di lapangan, hingga siang ini sudah 116 KK di Pante Kera yang mengungsi. Mereka sangat membutuhkan bantuan segera," ujar Nasruddin.
Evakuasi Mandiri dengan Peralatan Seadanya
Warga mengevakuasi diri tanpa dukungan peralatan memadai. Nasruddin menjelaskan, belum ada bantuan alat evakuasi dari pemerintah yang masuk ke lokasi karena akses menuju Pante Kera tergolong sulit.
Kebutuhan mendesak warga mencakup bahan makanan pokok, air bersih, selimut, dan tenda darurat. Nasruddin berharap BPBD Aceh Timur bersama Dinas Sosial segera turun ke lapangan.
"Warga sangat butuh bantuan dari pemerintah, terutama bahan makanan pokok, air bersih, selimut, dan tenda darurat. Kami berharap BPBD Aceh Timur dan Dinas Sosial segera turun ke lapangan," ujarnya.
Gampong Babo Aceh Tamiang Terendam 50 Sentimeter
Di Gampong Babo, air setinggi sekitar 50 sentimeter telah memasuki rumah-rumah warga. Sebagian penghuni memilih mengungsikan barang berharga dan ternak ke daerah lebih tinggi untuk menghindari kerugian lebih besar.
Dua lokasi banjir ini berada di kawasan pedalaman yang selama ini dikenal rawan genangan saat curah hujan meningkat. Akses jalan yang sulit menjadi kendala utama distribusi bantuan maupun evakuasi.
Imbauan: Amankan Dokumen dan Matikan Listrik
Yayasan Geutanyoe mengeluarkan imbauan kepada warga di daerah rawan banjir dan bantaran sungai agar tetap waspada, terutama pada malam hari. Warga diminta memantau perkembangan ketinggian air secara berkala.
Dokumen penting seperti Kartu Keluarga, KTP, ijazah, dan surat berharga lain diminta disimpan dalam plastik atau tempat aman. Barang elektronik dan benda berharga perlu dipindahkan ke tempat lebih tinggi.
"Segera amankan dokumen-dokumen penting, seperti Kartu Keluarga, KTP, ijazah, dan surat-surat berharga lainnya ke dalam plastik atau tempat yang aman. Amankan barang-barang elektronik dan barang berharga lainnya ke tempat yang lebih tinggi," tutur Nasruddin.
Warga yang memiliki balita, lansia, dan ibu hamil diminta segera mengungsi jika air mulai naik. Aliran listrik juga harus dimatikan begitu air memasuki rumah untuk mencegah korsleting dan bahaya tersengat listrik.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak panik, namun harus tetap waspada. Keselamatan jiwa adalah yang paling utama. Jangan menunggu air terlalu tinggi baru mengungsi," ucap Nasruddin.
Nasruddin juga meminta pemerintah, swasta, dan komunitas relawan bergotong royong membantu warga yang terdampak musibah banjir di pedalaman Aceh.