NAGAN RAYA — Pipa dipasang murni dengan tenaga warga. Mereka mengangkat dan menyambung pipa melintasi perbukitan serta tebing, dari sumber air menuju petak-petak sawah yang selama ini menganggur. Tidak ada alat berat, tidak ada kontraktor. Semua dikerjakan bergotong royong selama beberapa pekan terakhir.
Bagi petani di dua gampong itu, air bukan sekadar urusan irigasi. Sawah adalah sumber penghidupan utama yang terputus sejak banjir merusak saluran pengairan. Dua musim panen sudah dilewatkan tanpa bisa mengolah tanah.
Dua Musim Panen Terlewat Selama Irigasi Rusak
Kerusakan saluran irigasi membuat petani kehilangan kesempatan menggarap sawah sama sekali. Pemberitaan sebelumnya mencatat warga terpaksa membiarkan lahan kering selama dua musim tanam berturut-turut.
Kondisi itu memaksa mereka bertahan tanpa hasil panen, sementara biaya hidup terus berjalan. Pemulihan pascabencana di kawasan tersebut juga belum sepenuhnya tuntas.
Abu Kamil: Air Bagian dari Keberlangsungan Hidup Warga
Tokoh masyarakat Beutong Ateuh, Abu Kamil, menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga yang bekerja hingga pemasangan pipa rampung. Menurutnya, keberhasilan itu lahir dari kekuatan dan kebersamaan masyarakat sendiri.
"Alhamdulillah, pemasangan pipa sudah selesai. Ini semua karena kekuatan dan kebersamaan masyarakat. Kami berterima kasih kepada semua warga yang sudah bekerja, mengeluarkan tenaga dan membantu dengan kemampuan masing-masing," ujar Abu Kamil.
Abu Kamil menegaskan bahwa bagi masyarakat Beutong Ateuh, air bukan sekadar kebutuhan pertanian. Air merupakan bagian penting dari keberlangsungan kehidupan warga.
Harapan Petani: Kembali Turun ke Sawah dan Menanam Padi
Setelah pipa terpasang, harapan terbesar warga adalah air segera mengalir ke petak sawah. Petani ingin kembali mengolah tanah dan menanam padi seperti sebelum bencana.
"Harapan kami setelah pipa ini selesai, air bisa kembali mengalir ke sawah. Petani bisa turun lagi, mengolah tanah dan menanam padi. Kami tidak ingin sawah yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat terus dibiarkan kering," kata Abu Kamil.
Namun warga menyadari pemasangan pipa bukan akhir dari persoalan. Mereka menyebutnya sebagai langkah awal menghidupkan kembali lahan pertanian yang terdampak bencana.
"Ini pipa yang dipasang oleh tangan masyarakat sendiri. Mudah-mudahan air segera sampai ke sawah dan menjadi awal bagi petani untuk kembali menanam," ujar Abu Kamil.
Dukungan APEL Green Aceh dan Selamatkan Hutan Hujan
Abu Kamil juga menyampaikan terima kasih kepada APEL Green Aceh dan Selamatkan Hutan Hujan yang mendukung upaya masyarakat Beutong Ateuh. Dukungan itu dinilai sangat berarti bagi warga.
"Kami juga mengucapkan terima kasih kepada APEL Green Aceh dan Selamatkan Hutan Hujan yang sudah mendukung masyarakat Beutong Ateuh. Dukungan ini sangat berarti bagi kami. Semoga apa yang sudah dilakukan bersama ini bisa membantu masyarakat dan membuat sawah kami kembali dialiri air," ujarnya.
Di tengah proses pemulihan pascabencana yang belum sepenuhnya tuntas, gotong royong warga menunjukkan upaya mempertahankan sumber penghidupan. Bagi petani, sawah yang kembali dialiri air berarti harapan untuk kembali menanam dan kembali panen.