Pencarian

Goodfellas Pakai AI di Film The Third Hand, Hemat 8 Hari Syuting

Selasa, 22 September 2026 • 18:16:01 WIB
Goodfellas Pakai AI di Film The Third Hand, Hemat 8 Hari Syuting
CEO Goodfellas Vincent Maraval berbicara dalam Creative Investors' Conference San Sebastián edisi kelima.

ACEH — CEO Goodfellas Vincent Maraval mengungkap bahwa sutradara Michel Hazanavicius memangkas delapan hari produksi film Perang Dunia I berjudul "The Third Hand" berkat bantuan kecerdasan buatan. Penghematan itu terjadi pada adegan medan perang yang semula membutuhkan sepuluh hari syuting, kini cukup dua hari. Maraval menyampaikan hal tersebut dalam Creative Investors' Conference San Sebastián edisi kelima yang digelar bersama CAA Media Finance.

Vincent Maraval, veteran di industri penjualan dan produksi film Prancis, membeberkan dampak teknologi AI terhadap proses kerja rumah produksinya. Ia mencontohkan adegan pembuka "The Third Hand" yang berlatar medan perang Perang Dunia I sebagai bukti nyata efisiensi tersebut.

Goodfellas sendiri baru saja membuka penjualan film terbaru Hazanavicius itu di ajang TIFF. Produksi "The Third Hand" disebut baru saja rampung.

Sinopsis dan Pemain The Third Hand

Film ini mengikuti seorang tentara muda Prancis yang terluka di medan pertempuran Perang Dunia I. Ia kemudian terbangun di laboratorium seorang ilmuwan gila yang mencangkokkan tangan seorang tentara Jerman ke perutnya.

Deretan pemain yang terlibat mencakup Bérénice Bejo, Rebecca Marder, dan François Civil. Hazanavicius sebelumnya dikenal lewat "The Artist" yang meraih Oscar.

AI Pangkas Waktu Syuting Adegan Perang

Dalam sesi tanya jawab, Roeg Sutherland dari CAA menanyakan bagaimana teknologi baru mengubah proses kerja Maraval. Maraval lantas menyoroti adegan medan perang yang menjadi contoh paling mencolok.

"[Film] ini dimulai di medan perang Perang Dunia I," kata Maraval. "Tanpa AI, butuh sepuluh hari syuting. Dengan AI, cukup dua hari."

Saat ditanya soal potensi hilangnya lapangan kerja akibat pemangkasan waktu produksi, Maraval menegaskan bahwa keputusan tersebut ada di tangan sutradara. Menurutnya, teknologi baru membuka kemungkinan bagi sineas untuk menceritakan kisah yang sebelumnya sulit diwujudkan.

Ia mencontohkan film animasi peraih Oscar, "Flow", yang digarap sutradara Gints Zilbalodis seorang diri di komputer. Tanpa perangkat lunak tersebut, menurut Maraval, Zilbalodis tidak akan mampu menyampaikan ceritanya.

"Jika kita memakai AI untuk membuka kreativitas dan imajinasi, itu akan membantu," ujar Maraval. Ia menambahkan teknologi ini juga berpotensi membuat film lebih menguntungkan secara finansial.

Modal Film Kini Lebih Bertumpu pada Private Equity

Soal pendanaan, Maraval menyebut industri saat ini lebih bergantung pada private equity dibanding model lama yang mengandalkan pre-sales. Menurutnya, semakin banyak film dibiayai dana investasi swasta.

Goodfellas kini mencoba memadukan pre-sales dan ekuitas untuk negara-negara yang sulit dijual. Maraval mengaku pihaknya dulu bisa membiayai film sepenuhnya dari pre-sales, tetapi cara itu tak lagi dilakukan karena jauh lebih rumit di lanskap sekarang.

Ia justru melihat sisi positif dari masuknya dana luar. "Ada lebih banyak uang dari pihak luar yang ingin berinvestasi di perfilman," ujarnya.

Menanggapi kondisi box office Amerika Serikat yang sehat, Maraval menilai ada ekonomi dan dinamika yang berjalan di industri sinema. Tugas pelaku industri, katanya, adalah menggabungkan berbagai dinamika itu untuk menemukan solusi.

Pasar Lokal Makin Kuat, Goodfellas Bidik Talenta Internasional

Perubahan besar lain yang ia soroti adalah menguatnya pangsa pasar film lokal. Penonton semakin antusias menonton karya sineas lokal, dalam bahasa mereka sendiri, dan mengangkat isu yang membara di negara masing-masing.

Goodfellas kini memperbesar fokus pada talenta internasional. Mereka baru saja bekerja dengan sejumlah sineas Spanyol, termasuk duo "La Bola Negra", Los Javis.

Keputusan Maraval berinvestasi di proyek Los Javis muncul setelah mendengar masukan dari kolaborator lama di San Sebastián dan Movistar Plus. Hal ini menandai pergeseran pribadinya: lebih banyak mendelegasikan tugas, lebih mendengar tim, dan membiarkan generasi muda di Goodfellas menginformasikan talenta serta tren yang sedang naik.

"Saya dulu sepenuhnya digerakkan oleh sutradara, tapi saya belajar banyak hal berbeda," kata Maraval. Ia menyebut pendekatan auteur-driven terasa mudah saat menggarap nama besar seperti Kore-eda, Mungiu, atau Dardenne bersaudara.

Goodfellas juga terlibat dalam "Exit 8" garapan Genki Kawamura setelah seorang anggota timnya memberi tahu potensi adaptasi video game tersebut. "Tanpa generasi baru di kantor, saya akan melewatkan film itu," ujarnya.

Pandangan Suram Industri, tapi Sinema Lokal Jadi Harapan

Maraval tidak menampik bahwa kabar dari industri saat ini terasa muram. Di Prancis, ia menyebut negaranya berada di ambang pemerintahan sayap kanan ekstrem, dengan balai kota mulai memangkas seluruh subsidi budaya.

"Setiap berita yang kami dengar menyedihkan," katanya. "Kalau kita melihat itu, kita bisa panik, tapi kami pergi ke tempat lain."

Ia menilai keindahan sinema terletak pada jangkauannya yang mendunia. Tahun ini, Goodfellas tidak menggarap satu pun film Prancis dan justru banyak mengerjakan film Spanyol.

Menurut Maraval, sinema lokal di tiap negara semakin kuat seiring penonton yang enggan menonton film asing, dan itu bagian dari iklim politik yang berlangsung. "Kami tahu kami berada di bisnis pengecualian, dan sisanya menyedihkan," ujarnya.

Pernyataan Maraval menambah panjang daftar perdebatan soal peran AI di industri film global, di tengah tekanan pendanaan dan pergeseran selera penonton yang kian mengarah ke karya lokal.

Follow porosaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: variety.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks