ACEH — Dua film yang masuk Kompetisi Utama adalah Ibuku garapan Eddie Cahyono dan The Sea Speaks His Name (Laut Bercerita) arahan Yosep Anggi Noen. Kompetisi Utama tahun ini diikuti 14 film dari Korea, Jepang, Tiongkok, Taiwan, Iran, Uzbekistan, dan Indonesia.
Selain empat karya sineas Indonesia, ada dua film produksi bersama perusahaan film asal Indonesia yang juga terpilih. Keduanya tayang di program A Window on Asian Cinema.
Ibuku: Perjuangan Christine Hakim di Kompetisi Utama
Ibuku (My Mother) berkisah tentang Sumiati (Christine Hakim), seorang ibu yang berjuang menemui anaknya, Sri (Ayushita). Sri divonis hukuman mati di penjara Arab Saudi karena dituduh membunuh majikannya.
Di balik upaya pertemuan itu, luka lama antara ibu dan anak terungkap. Eddie Cahyono menggarap isu buruh migran, perempuan, dan hak asasi manusia secara personal dalam film ini.
The Sea Speaks His Name: Laut Bercerita di Layar Busan
The Sea Speaks His Name diadaptasi dari novel Laut Bercerita. Kisahnya berpusat pada Biru Laut, mahasiswa di kampus Yogyakarta yang gemar membaca dan menulis.
Saat suasana muram karena penangkapan mahasiswa akibat membaca buku terlarang, Laut dan kawan-kawannya bergabung dengan kelompok studi Winatra. Mereka berdiskusi dan bergerak memperjuangkan kebebasan berekspresi.
Four Seasons in Java dan ?LP? di Program Lain
Four Seasons in Java (Empat Musim Pertiwi) arahan Kamila Andini masuk program A Window on Asian Cinema. Film ini mengikuti Pertiwi (Putri Marino) yang kembali ke kampung halaman terpencil setelah 20 tahun.
Kepulangannya tidak berjalan mulus. Sahabatnya menikah dengan mantan kekasihnya, orang tuanya memusuhi kepulangannya, dan sosok keibuan yang dulu menjadi tempatnya berlindung telah terusir. Orang-orang yang dulu menjebloskannya ke penjara kini justru paling berkuasa.
Sementara itu, ?LP? garapan Dhiwangkara Seta masuk Wide Angle - Asian Short Film Competition. Film pendek ini mengisahkan Banyu, vokalis punk yang dikirim ke pusat rehabilitasi moral setelah ditangkap.
Di sana ia bertemu Deri, hantu dari masa lalunya, dan seorang ulama terhormat di kota tersebut. Banyu melawan sistem yang mengurungnya, hanya untuk menyadari satu-satunya jalan bebas ada pada orang terakhir yang ingin ia temui.
Dua Film Produksi Bersama Indonesia
Dua film karya sineas asing yang melibatkan perusahaan film Indonesia juga terpilih di A Window on Asian Cinema. 9 Temples to Heaven arahan Sompot Chidgasornpongse merupakan produksi bersama Thailand, Singapura, Prancis, Norwegia, China, Hong Kong, Indonesia, dan Qatar.
Film kedua, Hearing garapan Le Bao, melibatkan Singapura, Vietnam, Norwegia, Prancis, Indonesia, Arab Saudi, Kamboja, Thailand, dan Taiwan.
Kenapa Kompetisi Utama Busan Penting
Kompetisi Utama BIFF memperebutkan Busan Award - Best Film Award. Pemenang kategori ini mendapat tiket emas untuk mendaftar ke International Feature Film Academy Awards tanpa melalui jalur Komite Oscar masing-masing negara.
BIFF juga punya program Gala Presentation yang menampilkan lima karya pilihan dengan kehadiran langsung sutradara dan pemain. Ada pula Icons yang menampilkan 35 film maestro sinema dunia, serta Wide Angle yang mengkurasi film pendek dan dokumenter.
Dengan empat film di seleksi resmi dan dua produksi bersama, kehadiran Indonesia di Busan 2026 menambah panjang catatan sineas lokal di festival kelas dunia.