Pencarian

BYD Cetak Laba Kuartal II Naik 29,8 Persen, Ekspor Jadi Penyelamat di Tengah Perang Harga China

Jumat, 28 Agustus 2026 • 22:01:31 WIB
BYD Cetak Laba Kuartal II Naik 29,8 Persen, Ekspor Jadi Penyelamat di Tengah Perang Harga China
Petugas menunjukkan kendaraan listrik BYD di area pameran di Aceh, Selasa (12/8/2025).

ACEH — Setelah sempat ambles 55,4 persen pada kuartal I 2025, produsen kendaraan listrik asal China ini akhirnya menunjukkan sinyal pemulihan. Data yang dirilis dalam laporan bursa efek Shenzhen menunjukkan pendapatan semester pertama turun 7,13 persen menjadi 344,82 miliar yuan (sekitar Rp 779 triliun), dengan laba bersih yang masih terkoreksi 20,54 persen menjadi 12,33 miliar yuan.

Ekspor Mendominasi Hampir Separuh Total Penjualan

Faktor penentu kinerja kuartal kedua jelas: pasar luar negeri. BYD mengirimkan sekitar 792.000 unit kendaraan ke mancanegara pada paruh pertama tahun ini, melonjak 67,8 persen secara year-on-year. Angka itu setara 44 persen dari total penjualan global perusahaan.

Pada kuartal II saja, volume ekspor mencapai 471.091 unit—tumbuh 82,46 persen dibanding kuartal sebelumnya. Sementara itu, penjualan domestik justru menjadi beban. Total pengiriman NEV (new energy vehicle) semester pertama turun 15,72 persen menjadi 1,8 juta unit, dengan penurunan tajam 30 persen terjadi pada tiga bulan pertama.

Margin Kotor Justru Membaik Berkat Pasar Premium

Menariknya, meski pendapatan turun, margin kotor BYD naik dari 18,01 persen menjadi 18,85 persen. Ini menandakan pergeseran strategi: mobil yang diekspor ke Eropa, Asia Tenggara, dan Amerika Latin punya nilai jual lebih tinggi dibanding unit yang diperebutkan lewat perang diskon di pasar China.

Penjualan merek premium—Denza, Fang Cheng Bao, dan Yangwang—ikut terkerek 61 persen dan kini menyumbang 12,8 persen dari total penjualan kendaraan penumpang. Segmen ini menjadi penopang profitabilitas di tengah tekanan harga.

Perang Harga Domestik dan Strategi Bertahan BYD

Kondisi pasar China memang tidak mudah. Pemerintah Beijing mulai menekan para pabrikan untuk menghentikan "involution"—istilah lokal untuk persaingan pemotongan harga tanpa henti yang menggerus margin seluruh industri. BYD merespons dengan terus membakar dana riset: investasi R&D semester pertama mencapai 28,9 miliar yuan, sekitar 2,3 kali lipat laba bersihnya. Total akumulasi belanja riset perusahaan kini telah menembus 270 miliar yuan.

Ekspansi luar negeri juga membawa konsekuensi operasional. Perputaran persediaan (inventory turnover) BYD melambat menjadi 109 hari dari sebelumnya 79 hari, karena ribuan unit harus menghabiskan waktu berminggu-minggu di atas kapal laut menuju pasar tujuan.

Perbandingan dengan Tesla dan Momentum Paruh Kedua

Dibanding rival utamanya, BYD masih unggul volume. Pada kuartal II, BYD mengirimkan 557.090 unit kendaraan listrik murni, melampaui Tesla yang mencatat 480.126 unit. Keduanya sama-sama mengandalkan pasar luar negeri dan sama-sama menghadapi tekanan margin.

Momentum BYD menuju semester kedua tampak menguat. Penjualan Juli mencapai 419.211 unit, naik 21,76 persen secara tahunan—bulan ketiga beruntun tumbuh. Ekspor kendaraan penumpang dan pikap pada Juli menembus rekor 179.841 unit, setara 43 persen dari total penjualan bulanan. Perusahaan telah memberi sinyal kepada analis untuk menargetkan 1,5 juta unit ekspor pada 2026.

Perjalanan BYD masih panjang. Tarif bea masuk di Uni Eropa yang terus berubah, fluktuasi nilai tukar, dan biaya logistik laut menjadi risiko yang mengintai. Namun setelah setahun terpuruk, arah grafik mulai menanjak lagi—dan mesin ekspor terbukti menjadi penyelamat utama.

Follow porosaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: electrek.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks