BIREUEN — Kekhawatiran warga Gampong Matang Pasi, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, kian memuncak. Tiga muara baru yang muncul setelah bencana banjir dan longsor 26 November 2025 dibiarkan terbuka tanpa penanganan. Warga menilai lubang raksasa itu menjadi pintu masuk air laut ketika rob datang.
“Kalau tiga muara baru tidak segera ditimbun, jika banjir rob dikhawatirkan seluruh gampong bisa terendam,” ujar Sofyan Ataleb, warga Dusun Putro Beutong, Rabu (12/8/2026).
Dampak bencana itu sudah terasa hingga ke areal persawahan. Air yang masuk melalui muara baru membuat lahan pertanian warga terendam dan tidak bisa digarap.
Abrasi Telan Ratusan Pohon Kelapa di Dusun Kuala
Persoalan tidak berhenti pada muara. Abrasi yang terus berlangsung membuat garis pantai semakin mundur. Di Dusun Kuala, kebun kelapa warga nyaris habis tergerus gelombang air pasang, terutama saat angin barat bertiup kencang.
Sofyan menuturkan, dari sekitar 100 pohon kelapa yang dulu tumbuh di kebun tersebut, kini hanya tersisa dua batang. Padahal, warga sudah berupaya menahan laju abrasi dengan menanam pohon aron setelah tsunami 2004 silam.
“Kami tanam 21 tahun lalu, dan di pagar agar tidak dimakan hewan. Tapi saat sudah sebesar pelukan orang dewasa justru diambil air,” katanya.
Muzakir Abakar, warga Dusun Putro Labu, menambahkan jarak antara pantai dan kebun warga sebelumnya lebih dari 150 meter. Kini jarak itu menyempit drastis karena tanah terus terkikis. Ia mendesak agar seluruh bibir pantai Matang Pasi diturap menggunakan batu.
Jalan Amblas 50 Meter dan Balai Kuburan Rusak
Bencana November lalu juga meninggalkan kerusakan infrastruktur yang cukup parah. Satu unit balai kuburan di Dusun Kuala rusak diterjang material banjir. Jalan aspal selebar sekitar empat meter amblas sepanjang 50 meter dan kini berubah menjadi muara baru.
Keuchik Matang Pasi, Jamaludin, membenarkan munculnya tiga muara baru di Dusun Kuala. Sebelum banjir, lokasi tersebut merupakan kawasan kebun dan tambak warga. Ia mendukung usulan warganya agar ketiga muara segera ditimbun.
“Kami mendukung usulan warga. Timbunan di muara harus segera dilakukan agar tidak ada korban harta benda hingga korban jiwa,” tegas Jamaludin.
Ia juga mengusulkan pemasangan batu di sepanjang tepi pantai dengan perencanaan matang. Selain menahan abrasi, struktur itu diharapkan mempercepat surutnya air saat banjir dan meredam gelombang rob.
Laporan Kerusakan Sudah Disampaikan ke Dinas, Kapan Dieksekusi?
Camat Peudada, Erry Seprinaldi, memastikan seluruh kerusakan infrastruktur akibat banjir telah dilaporkan ke dinas terkait. “Semua kerusakan infrastruktur itu telah kami laporkan ke dinas terkait. Untuk tahap selanjutnya tinggal menunggu eksekusi,” ujarnya.
Di sisi lain, Analis Kebijakan Ahli Muda Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen, Bukhari, menyebut pendataan kerusakan sudah dimasukkan melalui pengkajian kebutuhan pascabencana.
“Kalau tidak salah semua sarana dan prasarana yang rusak tanggal 26 November 2025, semua usulan sudah dimasukkan ke Jitupasna oleh Dinas PUPR,” ungkap Bukhari.
Warga berharap eksekusi penimbunan muara tidak menunggu musim angin barat berikutnya. Jika tidak, risiko banjir rob yang lebih besar akan terus membayangi Matang Pasi.