BANDA ACEH — Safrizal mengingatkan ribuan mahasiswa agar tidak berhenti pada mengejar gelar. Ia meminta mahasiswa menjadi pribadi yang dapat dipercaya, menguasai teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir, menjadikan Aceh sebagai tempat berkarya, dan tetap peduli terhadap masyarakat.
"Jangan kehilangan hati. Karena pendidikan yang tinggi seharusnya membuat kita lebih manusiawi, lebih peduli, dan lebih bermanfaat," ujar Safrizal di hadapan para mahasiswa baru.
Dari Pencari Kerja Menjadi Pencipta Nilai
Safrizal mendorong mahasiswa mengubah orientasi dari sekadar pencari kerja menjadi pencipta nilai. Ia menilai tantangan ekonomi Aceh membutuhkan lulusan yang mampu menciptakan peluang, bukan hanya mencari pekerjaan.
"Kalau belajar ekonomi, ciptakan usaha. Kalau belajar teknologi, ciptakan solusi. Kalau belajar pertanian, tingkatkan nilai tambah," katanya.
Dorongan itu disampaikan di tengah keterbatasan ruang fiskal pemerintah Aceh. Dalam paparannya, Safrizal menyebut APBD Aceh masih bergantung sekitar 76,64 persen pada transfer pemerintah pusat. Sementara itu, Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi Aceh mencapai 42,81 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang sebesar 32,89 persen.
Kondisi itu belum berbanding lurus dengan penyerapan lulusan ke dunia kerja. Tingkat pengangguran terbuka lulusan perguruan tinggi di Aceh meningkat dari 10,07 persen menjadi 14,80 persen pada November 2025.
AI Bukan Pengganti Cara Berpikir
Perubahan teknologi juga menjadi perhatian Safrizal. Ia mengutip Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum yang memproyeksikan sekitar 170 juta pekerjaan baru akan tercipta secara global hingga 2030, sementara 92 juta pekerjaan lainnya mengalami pergeseran akibat perubahan teknologi.
Karena itu, mahasiswa diminta tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memperkuat kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis. "AI hanya menjadi co-pilot, bukan pengganti kemampuan berpikir. Teknologi boleh semakin pintar, manusia harus semakin bijaksana," katanya.
Rekam Jejak USK dan Harapan ke Depan
Dalam kesempatan yang sama, Safrizal memaparkan sejumlah capaian USK. Hingga Februari 2026, jumlah alumni USK telah mencapai lebih dari 172.000 orang. USK juga menempati peringkat keenam nasional untuk bidang Clinical & Health dalam THE World University Rankings 2025 by Subject. Enam peneliti USK masuk dalam daftar dua persen ilmuwan teratas dunia versi Elsevier dan Stanford University pada 2025.
Penutupan PAKARMARU 2026 turut dihadiri Rektor USK Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A., bersama jajaran wakil rektor, dekan, dan pimpinan universitas lainnya. Bagi ribuan mahasiswa baru, penutupan PAKARMARU menjadi awal perjalanan akademik yang dituntut menghasilkan kemampuan, karya, dan manfaat bagi masyarakat.