BANDA ACEH — Masa remaja yang identik dengan pencarian jati diri disebut sebagai fase paling rawan dalam tumbuh kembang anak. Perubahan fisik, psikis, dan sosial yang terjadi secara bersamaan membuat mereka rentan terhadap pengaruh negatif, mulai dari pergaulan bebas hingga konten digital yang tidak sesuai nilai agama.
Irhamna menilai fase peralihan dari anak-anak menuju dewasa ini membutuhkan proses pembinaan yang tepat dan menyeluruh. Jika diabaikan, dikhawatirkan remaja gagal tumbuh menjadi pribadi yang tangguh sebagaimana diharapkan keluarga, agama, dan bangsa.
Kunci Pembinaan: Kolaborasi Tiga Pilar Utama
Menurut Irhamna, pembinaan karakter remaja tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Pengetahuan dan pendidikan formal harus berjalan beriringan dengan penguatan moral spiritual serta pendampingan sosial yang responsif.
"Harus ada keseimbangan antara pengetahuan, keagamaannya, pendidikannya dan juga pembinaan terhadap sosial," ujarnya dalam siaran pers yang diterima redaksi, Senin (10/8/2026).
Ia memaparkan, pendidikan berperan membangun intelektual dan karakter, syariat Islam menjadi fondasi moral, sementara layanan sosial berfungsi sebagai jaring pengaman ketika remaja menghadapi persoalan hidup. Ketiganya dinilai sebagai kekuatan kolaboratif yang saling mengisi.
Orang Tua Wajib Jadi Cermin, Bukan Sekadar Pemberi Nasihat
Di tengah gempuran teknologi, Irhamna mengingatkan bahwa keluarga tetap menjadi benteng pertama pembentukan karakter anak. Namun, ia menyoroti kebiasaan orang tua yang hanya memberikan nasihat tanpa memberi contoh nyata.
"Orang tua menjadi cermin," tegasnya.
Ia mencontohkan, orang tua yang meminta anaknya rajin mengaji dan salat harus lebih dulu menunjukkan perilaku serupa dalam keseharian. Keteladanan dinilai jauh lebih efektif daripada sekadar instruksi verbal.
Soal pengawasan gadget, Irhamna justru tidak menyarankan pelarangan total. Menurutnya, kunci utama adalah pengaturan waktu dan pemanfaatan fitur pengawasan yang tersedia. Di lingkungan keluarganya, waktu belajar, mengaji, dan menyelesaikan pekerjaan sekolah diatur lebih dulu sebelum anak diberi akses internet.
"Jadi kita bisa kontrol di situ," katanya.
Kasus Anak di Aceh Meningkat, Pelaku Incar Korban Lewat Game Online
Persoalan pembinaan remaja ini sejalan dengan data di lapangan yang menunjukkan tren peningkatan kasus anak. Kasi Tindak Lanjut Kasus UPTD PPA DP3A Aceh, Nurjanisah, menyebut banyak faktor yang memicu kenaikan angka tersebut, salah satunya minimnya pengetahuan masyarakat akan akses layanan perlindungan.
Nurjanisah juga memperingatkan adanya modus baru yang menyasar anak-anak melalui ruang digital. Orientasi para pelaku kejahatan kini tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga merambah ke platform game dan ruang percakapan di dalamnya.
"Sekarang orientasi para pelaku ini mencari anak-anak melalui game," ungkapnya.
Ia menambahkan, anak yang menjadi korban perundungan atau bullying juga kerap berasal dari keluarga dengan ketahanan rendah, seperti orang tua bercerai atau pola asuh orang tua tunggal. Kondisi ini membuat pengawasan orang tua tidak bisa berhenti di lingkungan rumah, tetapi harus meluas hingga memahami aktivitas digital dan pergaulan anak.