LHOKSEUMAWE — Langkah relokasi ini menandai perpindahan total penghuni dari bangunan lama yang selama ini beroperasi di tengah kota. Ramdani Boy menyebut gedung anyar di Punteuet menawarkan standar hunian yang berbeda dari sebelumnya, terutama dari sisi luas ruang gerak dan tata kelola lingkungan.
"Lapas baru ini memiliki fasilitas yang lebih memadai, lingkungan yang lebih aman dan nyaman, serta ruang yang lebih luas untuk mendukung aktivitas dan pembinaan," kata Ramdani, Minggu (2/8/2026).
Kapasitas Hingga 700 Orang dan Ruang Pembinaan Baru
Dengan daya tampung maksimal 700 orang, lapas anyar ini menyisakan ruang cukup besar bagi penambahan warga binaan di masa mendatang. Selisih kapasitas dengan jumlah hunian saat ini mencapai 240 tempat, memberikan kelonggaran signifikan bagi petugas dalam mengelola blok hunian.
Perpindahan massal ini bukan sekadar ganti gedung. Luas bangunan yang lebih besar memungkinkan petugas memisahkan blok berdasarkan kategori tindak pidana dan masa hukuman, sehingga pengawasan bisa lebih terarah.
Nasib Bangunan Lama: Bakal Disulap Jadi Rutan
Setelah ditinggalkan para napi, kompleks Lapas Lama Lhokseumawe tidak akan dibiarkan kosong. Pihak Ditjenpas telah menyiapkan fungsi baru untuk aset tersebut, yakni sebagai Rumah Tahanan Negara (Rutan) Lhokseumawe.
Alih fungsi ini menjadi strategi agar dua institusi pemasyarakatan bisa beroperasi bersamaan di kota itu: rutan untuk menampung tahanan yang masih berstatus tersangka atau terdakwa, sementara lapas baru fokus pada pembinaan narapidana yang telah mendapatkan putusan hukum tetap.
Kebijakan ini juga menjawab persoalan klasik overcapacity yang kerap melanda rumah tahanan di berbagai daerah. Dengan adanya rutan terpisah, alur penempatan tahanan dan napi menjadi lebih jelas sejak proses penyidikan hingga pembinaan.
Bagaimana Dampaknya bagi Warga Sekitar Punteuet?
Beroperasinya lapas baru di Punteuet otomatis mengubah dinamika di kawasan tersebut. Mobilitas petugas, jadwal kunjungan keluarga napi, hingga aktivitas ekonomi warung-warung di sekitar lapas dipastikan meningkat.
Di sisi lain, masyarakat sekitar diharapkan turut berperan dalam pengawasan. Keberadaan lapas dengan kapasitas besar menuntut sinergi antara petugas keamanan dan warga untuk menjaga kondusivitas lingkungan.
Pemindahan tahap awal ini menjadi pekerjaan rumah bagi jajaran Lapas Kelas IIA Lhokseumawe untuk memastikan adaptasi para napi terhadap lingkungan baru berjalan mulus. Seluruh fasilitas pendukung, mulai dari dapur, klinik, hingga ruang kunjungan, kini diuji untuk pertama kalinya melayani ratusan penghuni.