Pencarian

An-2 dan Yak-52 Disulap Jadi Peluncur Drone FPV, Usia 80 Tahun Tak Jadi Halangan

Sabtu, 25 Juli 2026 • 08:32:01 WIB
An-2 dan Yak-52 Disulap Jadi Peluncur Drone FPV, Usia 80 Tahun Tak Jadi Halangan

ACEH — Unit Rusia BARS-Sarmat merilis video yang memperlihatkan dua konfigurasi pesawat yang tak lazim. An-2 dan Yak-52 kini dipersenjatai dengan sistem peluncuran drone FPV (first-person view) yang dirancang untuk mencegat UAV musuh di udara. Konsep ini mirip dengan apa yang sudah dilakukan Ukraina sebelumnya, yakni menyulap pesawat angkut ringan menjadi "induk drone".

An-2: Pesawat 80 Tahun dengan Kabin yang Jadi Pusat Kendali

An-2 yang diperkenalkan sekitar 80 tahun lalu menjadi tulang punggung program ini. Berkat kabinnya yang lega, pesawat ini bisa menampung peralatan kendali drone yang dibutuhkan untuk operasi interceptor di udara. Drone diluncurkan dari titik pemasangan di badan pesawat, meski Rusia belum mengungkap muatan maksimum atau apakah akan ada rel tambahan di sayap.

Rusia sebelumnya sudah mengumumkan rencana memulihkan 700 unit An-2 era Soviet. Program interceptor drone ini menjadi cara lain untuk memperpanjang usia armada yang seharusnya sudah pensiun. Dengan biaya perawatan yang relatif rendah, An-2 bisa menjadi platform murah untuk melawan gelombang drone musuh.

Yak-52: Pesawat Latih dengan Enam Rel di Bawah Sayap

Berbeda dengan An-2, Yak-52 yang awalnya dirancang sebagai pesawat latih membawa enam rel peluncuran di bawah sayapnya. Dalam video yang beredar, pesawat hanya membawa empat drone meski terdapat enam posisi kosong. Belum jelas mengapa dua rel lainnya tidak digunakan.

Kabin Yak-52 hanya memiliki dua kursi, sehingga timbul pertanyaan bagaimana operator mengendalikan drone dari dalam. Ruang yang sempit menyisakan sedikit tempat untuk perangkat kontrol FPV yang biasanya membutuhkan monitor dan joystick. Kemungkinan drone diterbangkan secara otonom atau dikendalikan dari jarak jauh oleh operator di darat.

Dalam latihan yang sama, drone interceptor berhasil menumbangkan beberapa UAV Ukraina, termasuk yang diduga sebagai umpan Maya. Meski detail teknis masih dirahasiakan, modifikasi ini membuktikan bahwa pesawat latih murah bisa dialihfungsikan menjadi pemburu drone.

Inspirasi dari Ukraina: An-28 Juga Jadi 'Induk Drone'

Rusia bukan yang pertama menerapkan konsep ini. Ukraina sebelumnya memodifikasi pesawat An-28 untuk meluncurkan drone interceptor P1-SUN yang dilengkapi sistem bidik optik. Pesawat tersebut mampu membawa hingga enam drone dan menjadi bagian dari pertahanan udara berlapis Ukraina, terutama untuk menghadapi Shahed buatan Iran.

Perbedaan utama ada pada ukuran dan daya angkut. An-28 lebih kecil dari An-2, tetapi sama-sama memanfaatkan kabin yang bisa diisi peralatan kendali. Kedua negara kini berlomba mengubah pesawat tua menjadi solusi murah melawan drone—alternatif dari rudal udara-ke-udara yang harganya bisa puluhan kali lipat.

Apa Artinya bagi Perkembangan Drone Interceptor?

Kombinasi pesawat lawas dan drone FPV modern menunjukkan tren baru dalam peperangan: memaksimalkan aset yang sudah ada. Daripada mengembangkan platform baru yang mahal, Rusia dan Ukraina memilih memodifikasi pesawat yang suku cadangnya masih tersedia.

Bagi pengamat teknologi, langkah ini juga mengingatkan bahwa drone interceptor tidak selalu harus diluncurkan dari darat. Dengan membawanya ke udara, jangkauan dan waktu respons terhadap ancaman UAV menjadi lebih pendek. Ke depan, kita mungkin akan melihat lebih banyak modifikasi serupa di negara lain yang memiliki armada pesawat era Soviet.

Follow porosaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techradar.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks