LHOKSEUMAWE — Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut memastikan pasokan BBM di Aceh terus mengalir dengan menambah jam operasional dua terminal utamanya. IT Lhokseumawe dan FT Krueng Raya kini beroperasi hingga 14 jam per hari, termasuk pada hari Minggu yang sebelumnya menjadi hari libur operasional.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Fahrougi Andriani Sumampouw menyatakan, penguatan operasional terminal merupakan langkah strategis untuk meningkatkan keandalan distribusi BBM di Aceh. “Kami terus mengoptimalkan operasional terminal sebagai tulang punggung distribusi BBM di Aceh. Berbagai langkah percepatan dilakukan agar proses penyaluran semakin efektif, sehingga kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi dengan baik dan kondisi distribusi di lapangan terus menunjukkan perbaikan,” ujar Fahrougi dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu.
Frekuensi Pengiriman Mobil Tangki Naik 65 Persen
Selain menambah jam operasional, Pertamina juga meningkatkan frekuensi pengiriman mobil tangki hingga sekitar 65 persen. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penyaluran BBM ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan lembaga penyalur lainnya di berbagai wilayah Aceh.
Penyesuaian pola distribusi juga diterapkan agar pasokan bisa menjangkau daerah yang membutuhkan secara lebih cepat. Sejak 12 Juli 2026, IT Lhokseumawe mulai memasok kebutuhan BBM ke wilayah Langsa dan Aceh Timur dengan rata-rata volume pengiriman mencapai 48.000 liter per hari.
Dua Terminal Jadi Tulang Punggung Distribusi
IT Lhokseumawe dan FT Krueng Raya merupakan dua infrastruktur utama Pertamina di Aceh. Dengan peningkatan jam operasional dan frekuensi pengiriman, diharapkan tidak ada lagi kelangkaan BBM di daerah-daerah yang sebelumnya sempat mengalami keterlambatan pasokan.
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut berkomitmen untuk terus memonitor kondisi di lapangan dan melakukan evaluasi berkala. Jika diperlukan, penyesuaian operasional akan kembali dilakukan untuk memastikan distribusi energi di Aceh tetap optimal.