ACEH — Seruan darurat datang dari puncak pimpinan industri otomotif Jepang. Koji Sato, yang juga menjabat sebagai ketua asosiasi otomotif Jepang (JAMA), menekankan bahwa tanpa perubahan fundamental, eksistensi pabrikan Jepang di pasar global terancam.
Biaya Produksi Membengkak Akibat 70.000 Varian Kabel
Dalam pernyataannya kepada Automotive News, Kamis (16/7/2026), Sato menyoroti inefisiensi besar pada rantai pasokan suku cadang. Ia mencontohkan, pemasok saat ini harus memproduksi hingga 70.000 varian berbeda hanya untuk satu komponen, yaitu rangkaian kabel.
"Kecuali ada perubahan, kita tidak akan bertahan," ujar Sato. Ia mengusulkan agar komponen dasar seperti baja, rangkaian kabel, dan material plastik dibuat seragam untuk semua merek utama Jepang, mulai dari Toyota, Honda, Mazda, Mitsubishi, Nissan, Subaru, hingga Suzuki.
Alihkan Anggaran Riset ke Teknologi Masa Depan
Standardisasi ini bukan sekadar efisiensi, melainkan strategi jangka panjang. Dengan menghentikan persaingan pada level komponen dasar, perusahaan otomotif bisa mengalihkan anggaran riset ke pengembangan yang lebih berdampak bagi konsumen. Fokus utama bisa diarahkan pada fitur perangkat lunak, sistem bantuan pengemudi canggih (ADAS), teknologi baterai pengisian cepat, hingga powertrain modern.
Ini adalah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya di industri otomotif Jepang yang dikenal dengan rivalitas ketat antar merek. Namun, data terbaru dari pasar Eropa menunjukkan urgensi yang tak bisa ditawar lagi.
Penjualan China di Eropa Lampaui Gabungan Merek Jepang
Pada bulan Mei lalu, penjualan gabungan produsen China seperti Geely Group, SAIC Motor, BYD, Chery Automobile, dan Leapmotor mencapai 138.140 unit di Eropa. Angka ini secara mengejutkan melampaui total penjualan seluruh merek raksasa Jepang yang hanya mencatatkan 130.424 unit.
Pergeseran peta kekuatan ini menjadi sinyal merah bahwa kejayaan mobil Jepang sedang berada di ujung tanduk. Jika tidak segera melakukan perubahan radikal dalam proses manufaktur, bukan tidak mungkin dominasi mereka di pasar global akan terus tergerus oleh agresivitas pabrikan asal Tiongkok.