ACEH — Dalam sambutannya di hadapan jemaah, Menag Nasaruddin Umar menekankan bahwa hijrah tidak boleh dimaknai secara sempit sebagai perpindahan fisik Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Menurutnya, esensi hijrah adalah perubahan sistem kemasyarakatan secara fundamental.
Empat Unsur Pembeda Masyarakat Umat
Menag menjelaskan, sebelum Islam hadir, masyarakat Arab dikuasai oleh sistem kabilah yang bertumpu pada hubungan darah dan kesukuan. Nabi Muhammad kemudian memperkenalkan konsep umat sebagai komunitas yang melampaui batas-batas suku, ras, dan golongan.
“Hijrah adalah transformasi sistem kemasyarakatan, dari masyarakat kabilah yang sempit dan primordial menuju masyarakat umat yang global, kosmopolitan, serta diikat oleh kasih sayang dan visi bersama,” ujar Nasaruddin Umar.
Ia merinci perbedaan mendasar antar bentuk komunitas sosial. Kabilah dibangun atas dasar hubungan darah, sya’abun berlandaskan ikatan keluarga besar, qawmun terbentuk melalui kesepakatan sosial, dan hizbun merujuk pada kelompok atau partai politik. Sementara itu, umat memiliki empat unsur pemersatu sekaligus: kasih sayang, visi ke depan, kepemimpinan yang berwibawa, serta masyarakat yang santun dan taat dalam satu sistem kepemimpinan yang disebut imamah. “Kalau keempat unsur itu ada dalam satu komunitas, barulah layak disebut umat,” katanya.
Pertanyaan Reflektif: Umat atau Kabilah?
Di hadapan para jemaah, Menag melontarkan pertanyaan kritis. “Apakah masyarakat Islam Indonesia sudah bisa disebut umat? Atau kita masih terjebak dalam mentalitas kabilah, hizbun, kedaerahan, dan kelompok sendiri-sendiri?”
Menurutnya, salah satu indikator masyarakat yang masih bermentalitas kabilah adalah tertutupnya akses kepemimpinan bagi pihak di luar kelompok tertentu. Sebaliknya, dalam masyarakat umat, kesempatan memimpin terbuka bagi siapa saja yang memiliki kapasitas dan mendapat kepercayaan, tanpa memandang latar belakang suku maupun jenis kelamin.
Acara yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dalam rangkaian program Peaceful Muharam ini dihadiri ratusan jemaah di Masjid Istiqlal. Menag berharap peringatan tahun baru hijriah menjadi momentum refleksi kolektif bagi umat Islam Indonesia untuk memperkuat persatuan dan meninggalkan sikap eksklusif.