SABANG — Para petani cengkeh di Kota Sabang kini harus menerima kenyataan pahit. Harga jual cengkeh kering di tingkat mereka merosot ke angka Rp106 ribu per kilogram, jauh dari ekspektasi di tengah musim panen yang seharusnya menjanjikan keuntungan lebih.
Kondisi ini, menurut para petani, dipicu oleh cuaca hujan yang hampir setiap hari mengguyur kebun-kebun cengkeh di Pulau Weh. Hujan yang terus-menerus membuat proses pengeringan cengkeh menjadi tidak maksimal, sehingga kualitas biji cengkeh menurun dan harga jual pun ikut tertekan.
Dampak Hujan pada Kualitas dan Harga Jual
Seorang petani di Gampong Kuta Timu, Sabang, mengungkapkan bahwa cengkeh yang dipanen saat musim hujan cenderung memiliki kadar air lebih tinggi. "Kalau tidak kering sempurna, bijinya cepat menghitam dan aromanya kurang kuat. Pedagang pasti menawar lebih rendah," ujarnya.
Penurunan harga ini menjadi pukulan bagi petani yang sudah mengeluarkan biaya besar untuk perawatan dan pemetikan. Sebelumnya, harga cengkeh kering di Sabang sempat bertahan di kisaran Rp130 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram pada musim panen tahun lalu.
Petani Terpaksa Jual Murah Demi Tutup Biaya
Tekanan ekonomi memaksa sebagian petani untuk tetap menjual hasil panen mereka meski dengan harga rendah. Mereka tidak punya pilihan lain karena kebutuhan biaya hidup dan perawatan kebun harus segera dipenuhi. "Daripada busuk di gudang, lebih baik dijual walau harganya jatuh," keluh petani lainnya.
Harga cengkeh di Sabang saat ini menjadi salah satu yang terendah di Provinsi Aceh. Fluktuasi harga ini sangat bergantung pada kondisi cuaca dan permintaan dari pasar pengolahan di luar daerah.
Belum Ada Intervensi dari Pemerintah Kota
Hingga berita ini diturunkan, belum ada langkah intervensi dari Pemerintah Kota Sabang untuk menstabilkan harga cengkeh. Para petani berharap Dinas Pertanian setempat dapat turun tangan, misalnya dengan memfasilitasi akses ke pengolah skala besar atau memberikan pelatihan teknik pengeringan modern yang tidak bergantung pada sinar matahari.
Musim hujan diperkirakan masih akan berlangsung beberapa pekan ke depan. Jika tidak ada perubahan cuaca, bukan tidak mungkin harga cengkeh di tingkat petani Sabang akan terus tertekan hingga musim panen berikutnya.