PT PLN (Persero) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menyiagakan tim teknis untuk memantau stabilitas infrastruktur kelistrikan serta telekomunikasi usai gempa magnitudo 5,9 mengguncang Sumba Barat, Selasa (5/5/2026). Langkah mitigasi ini diambil guna mengantisipasi potensi gangguan layanan di wilayah Nusa Tenggara Timur hingga Bali. Koordinasi intensif dengan BMKG terus dilakukan untuk memastikan keamanan aset vital negara di area terdampak guncangan.
Gempa bumi tektonik dengan magnitudo cukup besar kembali menguji ketahanan infrastruktur di wilayah Indonesia Timur. Peristiwa yang terjadi pada pukul 13:44:50 WIB ini awalnya tercatat berkekuatan M6,0, namun kemudian diperbarui oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi M5,9. Pusat gempa terdeteksi berada di laut, tepatnya 49 kilometer arah Barat Daya Wanokaka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Data BMKG menunjukkan episenter gempa terletak pada koordinat 10,21° LS dan 119,26° BT dengan kedalaman 26 kilometer. Mengingat sifatnya yang merupakan gempa dangkal, getaran dirasakan cukup luas hingga melintasi selat menuju Pulau Dewata. Bagi perusahaan pengelola infrastruktur publik seperti PLN dan Telkom, kedalaman dangkal ini menuntut pemeriksaan fisik segera pada gardu induk, menara transmisi, hingga jaringan kabel bawah laut.
Analisis Mekanisme Sesar Anjak Sumba
Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, BMKG mengklasifikasikan gempa ini sebagai akibat dari aktivitas Sesar Anjak Sumba atau Sumba Ridge Thrust. Mekanisme pergerakan naik ini menjadi perhatian serius karena karakteristiknya yang bisa memicu getaran kuat di permukaan meski magnitudo berada di angka menengah.
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," ujar Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, Selasa (5/5/2026). Penjelasan ini mengonfirmasi bahwa guncangan yang terjadi merupakan hasil dari pelepasan energi akibat patahan batuan di bawah laut Sumba.
Kabar baiknya, hasil pemodelan matematis BMKG menyatakan peristiwa ini tidak berpotensi tsunami. Hingga pukul 14.10 WIB, pantauan sensor di lapangan juga belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock). Kondisi ini memberikan ruang bagi tim lapangan BUMN untuk melakukan inspeksi aset tanpa risiko guncangan susulan yang berarti dalam jangka pendek.
Sebaran Dampak Getaran di NTT dan Bali
Guncangan paling kuat dirasakan di wilayah Waingapu, Karuni, Tambolaka, Waibakul, dan Waikabubak dengan skala intensitas IV MMI. Dalam skala ini, getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, bahkan bisa menyebabkan benda-benda pecah belah bergetar atau jendela berderit. Kondisi ini biasanya memicu kepanikan sesaat bagi warga yang berada di dalam bangunan bertingkat.
Dampak getaran juga meluas hingga ke wilayah Nusa Tenggara Barat dan Bali. Di Kabupaten Bima, Kota Bima, Kabupaten Sumbawa Barat, dan Kabupaten Sumbawa, getaran tercatat pada skala III MMI. "Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan truk berlalu," jelas Rahmat Triyono merinci dampak yang dirasakan masyarakat setempat.
Bahkan, warga di Denpasar, Bali, turut merasakan getaran dengan skala II MMI. Pada skala ini, guncangan biasanya hanya dirasakan oleh beberapa orang dan benda-benda ringan yang digantung, seperti lampu hias, akan bergoyang pelan. Meski intensitasnya rendah di Bali, jangkauan getaran yang mencapai ratusan kilometer dari pusat gempa menunjukkan besarnya energi yang dilepaskan oleh Sesar Anjak Sumba tersebut.
Mitigasi Operasional dan Keamanan Aset
Bagi operator telekomunikasi seperti Telkom dan penyedia listrik PLN, wilayah NTT memiliki tantangan geografis tersendiri. Gempa di laut dalam jarak dekat sering kali menjadi ujian bagi kabel serat optik bawah laut dan sistem distribusi daya. Fokus utama saat ini adalah memastikan tidak ada deformasi struktur pada bangunan pembangkit maupun menara BTS yang berada di pesisir Sumba Barat.
Hingga sore hari, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan masif pada fasilitas publik maupun gangguan distribusi energi. Namun, kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat wilayah selatan NTT merupakan zona aktif tektonik. Pemeriksaan rutin pada titik-titik rawan longsor yang dilalui jalur transmisi kabel juga menjadi prioritas tim di lapangan untuk menjamin kelancaran komunikasi dan pasokan listrik warga.
Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya audit struktur bangunan dan infrastruktur vital secara berkala di zona merah gempa. Sinergi antara data cepat BMKG dan respons tanggap darurat perusahaan pelat merah menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak ekonomi akibat bencana alam di daerah terpencil.