Pemerintah Provinsi Aceh merealisasikan pembangunan kampus LIPIA di Banda Aceh sebagai pusat pengembangan ilmu keislaman dan bahasa Arab bertaraf internasional. Langkah strategis ini merupakan hasil kolaborasi dengan Pemerintah Arab Saudi untuk membuka akses pendidikan berstandar global bagi generasi muda di wilayah barat Indonesia.
BANDA ACEH — Pemerintah Provinsi Aceh resmi merealisasikan pembangunan kampus Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Banda Aceh guna memperkuat sektor pendidikan tinggi. Kehadiran kampus ini menjadikannya cabang kedua di Indonesia setelah Jakarta sekaligus menjadi pusat studi Islam internasional bagi masyarakat di wilayah barat.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyampaikan apresiasi atas komitmen Pemerintah Arab Saudi dalam mendukung kemajuan pendidikan di Tanah Rencong. Kepastian ini diperoleh usai audiensi dengan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah Al Amoudi, di Kantor Kedutaan Besar Arab Saudi, Jakarta Selatan.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, menjelaskan pada Rabu (29/4/2026) bahwa kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada penguatan kurikulum berbasis keislaman. Kehadiran LIPIA diharapkan mampu memberikan standar baru bagi kualitas lulusan pendidikan tinggi di Aceh agar mampu bersaing di level global.
Realisasi Kerja Sama Pendidikan Internasional
Pemilihan Banda Aceh sebagai lokasi kampus kedua LIPIA di Indonesia didasari oleh nilai historis dan kultural yang kuat antara Aceh dengan dunia Islam. Pemerintah Arab Saudi memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan pendidikan di daerah ini sebagai bagian dari penguatan jejaring kerja sama bilateral.
"Kehadiran LIPIA di Banda Aceh merupakan bentuk nyata kontribusi Arab Saudi dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Aceh," ujar Nurlis Effendi menyampaikan pesan Gubernur.
Proyek ini diproyeksikan menjadi motor penggerak bagi generasi muda Aceh untuk mendalami bahasa Arab dan ilmu syariah tanpa harus keluar daerah. Fasilitas pendidikan ini akan menerapkan standar pengajaran yang sama dengan kampus pusatnya di Jakarta dan Arab Saudi.
Sejarah Panjang Inisiasi Kampus LIPIA Aceh
Inisiatif pembangunan kampus LIPIA di Banda Aceh sebenarnya memiliki akar sejarah yang cukup panjang. Rencana ini sudah dirintis sejak Muzakir Manaf menjabat sebagai Wakil Gubernur Aceh pada periode 2012–2017 melalui serangkaian pertemuan dengan pejabat tinggi Arab Saudi.
Komunikasi intensif terus dibangun, termasuk dengan pihak pengelola Masjidil Haram dan kunjungan balasan delegasi Arab Saudi ke Aceh pada tahun 2015 dan 2016. Momentum ini semakin kuat setelah kunjungan Menteri Dalam Negeri Arab Saudi ke Aceh pada 2017 lalu.
Pemerintah Aceh menilai keberlanjutan hubungan diplomatik ini sebagai kunci utama terealisasinya pembangunan fisik kampus. Kehadiran institusi pendidikan ini juga menjadi simbol eratnya hubungan persaudaraan antara masyarakat Aceh dengan Kerajaan Arab Saudi.
Dorong Investasi Infrastruktur dan Ekonomi Syariah
Selain sektor pendidikan, Gubernur Aceh juga mendorong keterlibatan lebih luas dari investor Arab Saudi untuk membangun infrastruktur daerah. Hal ini mencakup upaya pemulihan pascabencana banjir di beberapa wilayah Aceh yang membutuhkan penanganan serius dan pendanaan besar.
Kerja sama ekonomi syariah juga menjadi poin penting dalam pertemuan tersebut. Pemerintah Aceh membuka pintu bagi para pelaku usaha dari Arab Saudi untuk menanamkan modal pada sektor ekonomi berbasis syariah yang kini tengah berkembang pesat di Aceh.
Sebagai penutup, Pemerintah Aceh turut menyampaikan rasa terima kasih kepada Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Apresiasi ini diberikan atas pelayanan prima terhadap jemaah haji asal Aceh selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.