BANDA ACEH — Kawasan Pasar SMEP Peunayong yang semula dibangun sebagai lokasi relokasi pedagang pascatsunami 2004 kini akan disulap menjadi kawasan perdagangan terpadu dan ruang publik. Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan banyak kios di pasar itu sudah tidak beroperasi dan area sekitarnya terlihat kurang produktif.
Illiza menjelaskan revitalisasi tidak sekadar merenovasi bangunan, tetapi mengubah fungsi kawasan secara menyeluruh. Pasar SMEP nantinya akan dilengkapi pertokoan, sentra UMKM, kafe, amphitheater, dan ruang terbuka untuk kegiatan seni serta komunitas.
“Tempat ini sudah mulai kumuh, pedagang juga sudah tidak begitu laku dan banyak kios yang kosong. Karena itu kita ingin mengembalikan fungsi kawasan ini agar kembali hidup,” ujar Illiza dalam peninjauan tersebut.
Salah satu ciri khas penataan kawasan ini adalah penggabungan elemen sejarah dan budaya. Desainnya akan menampilkan ornamen yang merepresentasikan etnis dan bangsa yang memiliki hubungan historis dengan Aceh, seperti Tionghoa, Turki, dan India.
“Kita ingin menghadirkan kawasan yang mencerminkan keberagaman dan sejarah Banda Aceh, bukan hanya mengangkat satu etnis saja. Ini menjadi simbol kota yang inklusif dan penuh kolaborasi,” kata Illiza.
Ke depan, kawasan Pasar SMEP juga diproyeksikan terhubung dengan pengembangan ekonomi malam. Pemkot Banda Aceh akan menghadirkan konsep car free night, pusat kuliner, dan pasar produk UMKM di area tersebut.
Langkah ini diharapkan mampu menggerakkan kembali perekonomian masyarakat Kota Banda Aceh yang sempat menurun di kawasan itu. Penataan Pasar SMEP menjadi salah satu program prioritas pemkot untuk menghidupkan pusat perdagangan lama yang punya nilai historis tinggi.