ACEH — Pekan ini menjadi roller coaster bagi Cerebras Systems, perusahaan chip kecerdasan buatan (AI) yang baru melantai di bursa. Di satu sisi, pendapatan kuartal I-2025 melesat 94% year-on-year menjadi USD 193 juta (sekitar Rp 3,2 triliun). Kerugian bersih pun menyempit dari USD 23,9 juta menjadi USD 14 juta. Namun, kabar buruk datang dari proyeksi ke depan yang membuat investor kabur.
Kekhawatiran investor muncul setelah Cerebras memberikan panduan margin kotor tahun ini yang lebih rendah dari ekspektasi. Manajemen memperkirakan margin penuh tahun 2025 hanya berkisar 38-41%, jauh di bawah realisasi kuartal I yang mencapai 47%.
CEO Cerebras Andrew Feldman menjelaskan kepada CNBC bahwa pasar salah memahami panduan margin tersebut. Menurutnya, penurunan ini bukan karena fundamental bisnis yang memburuk, melainkan efek dari keputusan operasional jangka pendek.
Dalam paparan earnings call, perusahaan mengungkapkan bahwa mereka akan menyewa kembali sistem miliknya sendiri dari salah satu pelanggan terbesar. Langkah ini diambil agar Cerebras bisa menyediakan lebih banyak kapasitas komputasi lebih cepat tanpa harus menunggu pembangunan pusat data sendiri selesai.
"Kami memutuskan untuk membuat lebih banyak kapasitas tersedia lebih cepat dengan menyewa kembali sistem kami dari pelanggan yang sudah ada," ujar Feldman. Namun, biaya sewa balik ini langsung memangkas margin laba kotor tahun ini.
Reaksi pasar sangat cepat. Saham Cerebras jatuh ke level terendah sepanjang masa pada Rabu, nyaris menyentuh harga IPO. Penurunan hampir 20% dalam sehari menunjukkan betapa sensitifnya investor terhadap prospek profitabilitas di tengah persaingan ketat pasar chip AI.
Bagi pengamat industri, langkah Cerebras ini mirip dengan strategi perusahaan rintisan lain yang mengorbankan margin demi pertumbuhan kapasitas. Namun, investor tampaknya lebih memilih kepastian margin yang sehat ketimbang ekspansi agresif yang berisiko.
Meski pendapatan melonjak 94%, beban operasional Cerebras juga ikut membengkak. Perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyewa kembali peralatan dan membangun infrastruktur data center sendiri. Kombinasi ini yang membuat margin kotor bisnis inti tertekan.
Feldman menegaskan bahwa situasi ini bersifat sementara. Setelah pusat data milik sendiri beroperasi penuh, margin diproyeksikan kembali ke level ideal. Namun, tanpa kepastian kapan infrastruktur itu rampung, skeptisisme investor masih akan bertahan.
Bagi konsumen dan pengamat teknologi, kasus Cerebras menjadi pengingat bahwa bahkan perusahaan dengan pertumbuhan pendapatan tinggi pun bisa menghadapi tekanan pasar jika prospek marginnya diragukan. Keputusan beli saham atau produk perusahaan semacam ini perlu mempertimbangkan tidak hanya angka pendapatan, tetapi juga kesehatan margin jangka panjang.