ACEH UTARA — Enam bulan sudah berlalu sejak banjir bandang menerjang Kecamatan Langkahan pada akhir 2026, namun duka warga belum juga usai. Di Gampong Rumoh Rayeuk, sekitar 300 jiwa masih menanti realisasi bantuan Jaminan Hidup (Jadup) yang tak kunjung tiba.
Kondisi mereka kian terpuruk setelah puluhan huntara yang menjadi tempat berteduh justru rusak akibat angin kencang beberapa waktu lalu. Sebagian warga kini terpaksa mengungsi ke rumah sanak saudara.
Keuchik Gampong Rumoh Rayeuk, A’kthaillah, mengungkapkan bahwa seluruh proses pendataan dan administrasi bantuan Jadup telah rampung. Berkas sudah diserahkan ke pemerintah kecamatan dan kabupaten untuk diteruskan ke pusat. Namun, hingga hari ini, tidak ada realisasi sama sekali.
“Warga kami sangat berharap dan mendesak pemerintah pusat untuk segera mengambil tindakan nyata. Kami butuh kejelasan kapan bantuan Jadup ini dicairkan,” kata A’kthaillah, Sabtu (6/6/2026).
Ia menambahkan bahwa setiap hari warga datang bertanya soal nasib bantuan tersebut. Ekonomi mereka makin terpuruk karena harus berusaha bangkit mandiri di tengah keterbatasan.
Bencana tak datang sekali. Setelah rumah permanen mereka hancur akibat banjir bandang, tempat penampungan sementara yang disediakan pun ikut rusak diterjang angin kencang. Warga kini hidup dalam kondisi darurat berlapis.
“Rumah sudah hancur karena banjir, sekarang huntara juga rusak karena angin kencang. Kondisi masyarakat sekarang sangat memprihatinkan,” kata A’kthaillah.
Pihak gampong mendesak agar birokrasi penyaluran bantuan tidak berbelit-belit. Mereka juga meminta kepastian apakah pemerintah akan memperbaiki huntara yang rusak atau mempercepat pembangunan hunian tetap (huntap).
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) maupun pemerintah pusat terkait jadwal pencairan bantuan Jadup untuk warga Langkahan. Warga berharap tindak lanjut konkret segera hadir sebelum kondisi kemanusiaan semakin memburuk.