BANDA ACEH — Batu bara kembali menjadi komoditas utama yang menopang kinerja ekspor Aceh. Kepala BPS Aceh, Agus Andria, menyebutkan bahwa pada April 2026, nilai ekspor batu bara mencapai 45,57 juta dolar AS, atau setara hampir 80 persen dari total ekspor daerah. Komoditas lain seperti kopi, rempah-rempah, dan produk kimia hanya memberikan kontribusi kecil di dalamnya.
India menjadi negara tujuan terbesar ekspor Aceh dengan nilai 38,14 juta dolar AS, disusul Thailand sebesar 4,49 juta dolar AS dan Vietnam sebesar 4,29 juta dolar AS. Seluruh negara tersebut menerima pasokan batu bara dalam jumlah besar dari Aceh.
BPS mencatat, dari total ekspor 56,99 juta dolar AS, sebanyak 45,58 juta dolar AS atau 79,97 persen dikirim langsung melalui pelabuhan di Aceh. Sisanya, 11,39 juta dolar AS, dikirim melalui pelabuhan di provinsi lain, mayoritas Sumatera Utara.
Di sisi impor, nilainya mencapai 49,25 juta dolar AS pada April 2026. Angka ini meningkat 14,09 persen dibanding Maret 2026, namun masih turun 3,07 persen jika dibandingkan April 2025. Amerika Serikat menjadi pemasok terbesar dengan nilai 27,17 juta dolar AS, disusul Aljazair sebesar 18,74 juta dolar AS dan Tiongkok sebesar 2,99 juta dolar AS.
"Impor Aceh masih didominasi oleh komoditas gas propana dan butana. Nilainya mencapai 45,91 juta dolar AS atau sekitar 93,20 persen dari total impor selama April 2026," ujar Agus Andria.
Meskipun impor meningkat secara bulanan, surplus neraca perdagangan Aceh pada April 2026 tetap tercatat sebesar 7,74 juta dolar AS. Agus menambahkan, dalam periode April 2025 hingga April 2026, neraca perdagangan Aceh relatif berada dalam kondisi surplus. Defisit hanya terjadi pada dua bulan, yakni Mei 2025 dan Oktober 2025.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun menghadapi fluktuasi, kinerja perdagangan luar negeri Aceh masih cukup kuat. Ketergantungan pada batu bara sebagai komoditas ekspor utama dan gas propana-butana sebagai barang impor menjadi pola yang terus bertahan dalam perdagangan daerah tersebut.