BANDA ACEH — Sudaryono tiba di fasilitas SPPG Cadek sebelum matahari terbit. Kedatangannya mengejutkan pegawai yang tengah menyiapkan makanan untuk distribusi pagi.
Peninjauan menyisir setiap sudut fasilitas. Mulai dapur produksi, ruang penyimpanan bahan baku basah dan kering, ruang pengemasan, hingga ruang uji laboratorium tempat sampel makanan diperiksa sebelum dikirim ke sekolah-sekolah.
Dia juga mengamati rincian takaran dan nilai gizi pada porsi makanan yang hendak diedarkan.
Apa yang Dipuji dari Dapur Cadek
Sudaryono menilai SPPG Cadek disiplin menjalankan operasional. Pegawai dinilai patuh mengenakan masker dan menjaga higienitas pengolahan pangan.
"Tadi kita lihat semua pegawaimu bagus. Jadi nggak ada teguran buat kalian. Jadi saya bukan kok sok otoriter atau berkuasa atau sok marah-marah, nggak. Kami inti memastikan bahwa menyemangati yang kerjanya udah bagus," katanya di lokasi.
Dia menegaskan kedatangannya bukan untuk mencari kesalahan. "Saya datang ke sini bukan untuk marah-marah gitu, nggak. Tapi kita untuk memastikan, menyemangati kamu dan pasukan kita semua yang ada di seluruh Indonesia," ujarnya.
Pengetatan Aturan Kerja dan Keluhan Pekerja
Sudaryono mengakui ada pengetatan aturan kerja di dapur SPPG yang belakangan dikeluhkan sejumlah pekerja di media sosial. Meski begitu, BGN tidak akan mengendurkan standar keselamatan pangan.
"Kami berusaha menempatkan kepentingan penerima manfaat itu menjadi yang paling utama. Konsumen, baik siswa maupun kelompok 3B (balita, ibu hamil, dan ibu menyusui), keamanan dan kesehatannya adalah nomor satu," ujarnya.
Pengawasan Berjenjang dan Rencana CCTV Berbasis AI
Pengawasan operasional SPPG saat ini dilakukan berjenjang lewat presensi virtual Zoom dua kali sehari. Sesi sore berlangsung saat penerimaan bahan baku bersama kepala SPPG, akuntan, dan ahli gizi. Sesi dini hari berlangsung pada masa pengolahan dapur sekitar pukul 02.00-03.00 WIB.
BGN tengah menggodok integrasi kamera pengawas di seluruh SPPG ke sistem pusat yang didukung kecerdasan buatan. Tujuannya mendeteksi kepatuhan secara otomatis.
"Kami sedang upayakan gambarnya dikirim ke pusat dan diberi AI untuk mendeteksi kepatuhan otomatis, apakah pakai masker, apakah sesuai SOP. Sedikit saja ada dapur bermasalah, persepsi publik seolah seluruh dapur demikian. Makanya semua dapur wajib taat," tuturnya.
Klaim Dampak MBG ke Kehadiran Siswa
Sudaryono menyebut tujuan MBG adalah perbaikan gizi dan pertumbuhan yang baik. Dia juga mengklaim program tersebut mendongkrak kehadiran siswa di ruang kelas secara agregat nasional.
"Karena impact yang kita inginkan adalah perbaikan gizi, pertumbuhan yang baik, dilihat secara fisik, berat badan, tinggi badan, termasuk juga ada output termasuk kehadiran," ujarnya.
Dia meminta program MBG tidak dinilai hanya dari Jakarta atau ibu kota provinsi. "Saya harus katakan bahwa kita tidak bisa melihat program MBG ini hanya sekilas dari Jakarta atau dari ibu kota, dari kota atau ibu kota, ibu kota provinsi atau ibu kota nasional kita di Jakarta. Tapi kita melihat secara agregat keseluruhan, ya, bahwa tingkat kehadiran ini juga naik," pungkasnya.