ACEH — Federasi Industri dan Perdagangan Audiovisual Brasil (FICA) mengumumkan kampanye kesadaran antipembajakan yang akan tayang di televisi free-to-air, TV berbayar, radio, iklan luar ruang, dan bioskop mulai akhir Oktober. Pengumuman disampaikan di ajang RioMarket dalam rangkaian Rio Film Festival, dengan dukungan grup media, telekomunikasi, dan eksibitor lokal yang menyediakan ruang iklan gratis. Kampanye ini menyasar São Paulo, Minas Gerais, dan Rio de Janeiro lebih dulu sebelum diperluas ke seluruh negeri.
Agensi iklan lokal 11:21 dipercaya menggarap kampanye pro bono tersebut. CEO 11:21, Gustavo Bastos, mengatakan pihaknya sengaja menghindari pendekatan hukum yang kaku dan memilih bahasa film serta serial untuk menyampaikan pesan.
Karakter bajak laut diciptakan khusus untuk kampanye ini, terinspirasi dari produksi-produksi bertema perompak. Menurut Bastos, pendekatan sinematik dipilih karena kampanye antipembajakan umumnya bernada penindakan dan justru menjauhkan audiens.
"Kampanye antipembajakan umumnya mengadopsi nada penegakan hukum, menekankan represi, yang cenderung mengasingkan audiens. Kami memilih pendekatan sinematik, mengambil inspirasi dari produksi bajak laut," kata Bastos.
Kerugian Rp38 Triliun per Tahun
Studi Institut Geografi dan Statistik Brasil (IBGE) pada 2022 mencatat pembajakan menyebabkan kerugian tahunan 12 miliar real atau setara 2,4 miliar dolar AS di negara tersebut. Presiden Asosiasi TV Berbayar Brasil (ABTA), Jonas Antunes Couto, menyebut studi itu juga mengidentifikasi praktik pembajakan di sekitar 4,5 juta rumah tangga Brasil.
Menurut Couto, kotak TV ilegal yang sebagian besar diselundupkan dari Asia menjadi kekhawatiran utama dalam pemberantasan pembajakan audiovisual di Brasil. Perangkat itu memungkinkan konsumen mengakses film, serial televisi, siaran olahraga langsung, dan konten lain tanpa izin pemegang hak cipta.
Terhubung ke televisi dan internet, kotak TV ilegal dijual dengan harga relatif murah dan menyediakan akses ke perpustakaan konten bajakan yang luas. Keberadaannya sering menghilangkan kebutuhan berlangganan layanan streaming legal atau TV berbayar.
"Pembajakan adalah fenomena global. Menurut kami, pihak di balik bisnis ini bukan pelaku skala kecil, melainkan organisasi kriminal besar yang terlibat dalam aktivitas ilegal lain, termasuk kejahatan siber, untuk membiayai operasi mereka," ujar Couto.
Risiko Keamanan di Balik Kotak TV Ilegal
Selain kerugian finansial bagi operator TV berbayar, platform streaming, dan produser audiovisual, kotak TV ilegal berpotensi menimbulkan risiko keamanan siber. Perangkat itu bisa mengandung malware yang membuka peluang pencurian data, akses tidak sah ke informasi pribadi, dan ancaman siber lain.
Saluran pelaporan kriminal anonim Brasil, Disque Denúncia, turut menjadi mitra kampanye. Warga bisa melaporkan dugaan aktivitas kriminal tanpa mengungkap identitas mereka.
Dampak Operasi Antipembajakan di Argentina
Claro termasuk korporasi yang mendukung kampanye ini. Selain telepon seluler dan tetap serta internet broadband, Claro menyediakan layanan TV berbayar dan hiburan digital di Brasil yang terdampak langsung oleh pembajakan.
Direktur pemrograman dan konten Claro, Fernando Magalhães, menyebut operasi antipembajakan besar di Argentina tahun lalu berhasil menutup salah satu pusat konten bajakan terbesar di Amerika Latin. Dalam tiga bulan setelah operasi itu, penjualan paket langganan TV berbayar di Brasil naik lebih dari 20 persen.
"Tapi ini permainan kucing dan tikus. Saat upaya antipembajakan semakin canggih secara teknologi, pembajakan juga berkembang secara teknologi," kata Magalhães.
Kampanye FICA menambah tekanan pada ekosistem distribusi konten di Brasil, tempat pembajakan masih menjadi pesaing nyata bagi layanan legal, terutama di segmen TV berbayar dan streaming.