ACEH — Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menjadi destinasi warisan budaya pertama di Indonesia yang menerapkan skema kredit karbon sukarela lewat pembelian tiket masuk. Wisatawan kini bisa menambahkan kontribusi sukarela saat membeli tiket untuk mengimbangi emisi perjalanan mereka. Program ini diresmikan di Manohara Borobudur Cultural Center pada Senin (5/10/2026).
Candi Borobudur resmi menjadi destinasi warisan budaya pertama di Indonesia yang menerapkan skema kredit karbon sukarela (voluntary carbon credit). Inisiatif bertajuk "Inisiatif Strategis Dekarbonisasi Kawasan Candi Borobudur" ini merupakan kolaborasi antara InJourney Destination Management (IDM) bersama Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE). Peluncurannya dihadiri Direktur Utama Pertamina NRE John Anis, Direktur Operasi IDM Indung Purwita Jati, dan Direktur Utama PT Taman Wisata Borobudur Mardijono Nugroho.
Cara Wisatawan Berkontribusi
Pengunjung cukup memilih satu opsi tambahan berupa kontribusi sukarela saat membeli tiket masuk Candi Borobudur. Dana yang terkumpul langsung dialokasikan untuk mengimbangi emisi karbon dari perjalanan wisatawan menuju destinasi super prioritas tersebut.
Setiap kontribusi tercatat resmi atas nama pengunjung. Wisatawan menerima sertifikat digital sebagai bukti partisipasi, sekaligus bisa melacak dampak kolektif dari program pengurangan emisi ini.
Ke Mana Dana Kredit Karbon Disalurkan
Seluruh dana disalurkan eksklusif untuk mendanai proyek energi terbarukan dan pelestarian alam yang dikelola Pertamina NRE di berbagai wilayah Indonesia. Proyek-proyek itu telah terdaftar resmi di Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) di bawah Kementerian Lingkungan Hidup.
Pendaftaran di SRUK menjamin setiap rupiah yang disumbangkan wisatawan tetap berputar di dalam negeri untuk menekan laju emisi gas rumah kaca nasional.
Alasan Borobudur Dipilih sebagai Percontohan
Direktur Operasi IDM Indung Purwita Jati menegaskan langkah dekarbonisasi tidak bisa berdiri sendiri. Menurutnya, seluruh perjalanan wisatawan perlu dilihat, mulai dari perjalanan menuju destinasi hingga energi yang digunakan di dalam kawasan.
"Langkah dekarbonisasi tidak bisa berdiri sendiri. Kami perlu melihat seluruh perjalanan wisatawan, mulai dari perjalanan menuju destinasi hingga energi yang digunakan di dalam kawasan. Karena itu, kolaborasi menjadi bagian penting dari upaya kami membangun destinasi yang lebih berkelanjutan," ungkap Indung.
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menyoroti peran Borobudur sebagai representasi Indonesia di kancah global. Ia ingin pengalaman mengunjungi Borobudur juga mencerminkan arah Indonesia ke depan.
"Borobudur adalah wajah Indonesia di mata dunia. Kami ingin pengalaman mengunjunginya juga mencerminkan arah Indonesia ke depan, rendah karbon, transparan, dan melibatkan semua orang. Melalui skema ini, wisatawan tidak hanya menikmati warisan budaya, tetapi juga dapat memilih untuk turut berkontribusi mendukung transisi energi Indonesia dengan cara yang terukur dan dapat diverifikasi," papar John.
Peran Pertamina NRE di Bursa Karbon
Pertamina NRE merupakan entitas pertama penjual kredit karbon di Bursa Karbon Indonesia pada 2023. Sinergi ini memperluas peran perusahaan menjadi mitra strategis dekarbonisasi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat luas di ruang publik.
Skema percontohan carbon neutral zone ini akan diperluas secara bertahap ke berbagai destinasi pariwisata unggulan lain yang dikelola InJourney melalui peta jalan InJourney Decarbonization Roadmap. Langkah ini mendukung target Pemerintah Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat.
Tips bagi Wisatawan yang Ingin Ikut Program
Kontribusi karbon bersifat sukarela, jadi wisatawan bisa memilih ikut atau tidak saat membeli tiket. Jika ingin berpartisipasi, pastikan data nama dan kontak diisi dengan benar agar sertifikat digital bisa diterbitkan atas nama Anda. Informasi teknis terkini soal besaran kontribusi dan cara klaim sertifikat dapat dikonfirmasi langsung ke pengelola Candi Borobudur atau Pertamina NRE.
Bagi wisatawan yang merencanakan kunjungan ke Borobudur, program ini memberi opsi konkret untuk menyeimbangkan jejak karbon perjalanan tanpa mengubah pengalaman utama menikmati warisan budaya dunia.