Pencarian

Dua Pemasok Minyak Dunia Terganggu, Stok BBM RI Disebut Aman 21 Hari

Kamis, 24 September 2026 • 08:19:31 WIB
Dua Pemasok Minyak Dunia Terganggu, Stok BBM RI Disebut Aman 21 Hari
Stok operasional BBM nasional tercatat aman hingga 21 hari di tengah gangguan pasokan minyak dunia.

ACEH — Stok operasional bahan bakar minyak Indonesia tercatat tahan hingga 21 hari di tengah gangguan pasokan dari Timur Tengah dan Rusia. Pengamat energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai cadangan jangka pendek itu cukup, tetapi belum menjamin ketahanan struktural bila gangguan berlarut. Model ekonominya memperkirakan harga keekonomian BBM naik 18 persen pada skenario rata-rata dan 26 persen pada kondisi terburuk.

Gangguan pasokan minyak dunia datang dari dua arah sekaligus. Eskalasi konflik di Timur Tengah dan ketegangan di Selat Hormuz memangkas jutaan barel minyak mentah dari negara-negara Teluk. Serangan terhadap kilang dan terminal ekspor Rusia melumpuhkan kapasitas produksi Negeri Beruang Merah.

Tekanan bertambah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meneken undang-undang sanksi baru. Aturan itu mengancam tarif hingga 100 persen bagi negara mana pun yang tetap mengimpor minyak Rusia.

Stok 21 Hari dan Batasnya

Yayan Satyakti menyebut pemerintah mencatat stok operasional BBM tahan sampai 21 hari. Menurutnya, angka itu menempatkan Indonesia pada posisi cukup aman untuk gangguan jangka pendek.

"Ketahanan energi Indonesia masih cukup aman untuk menghadapi gangguan jangka pendek, tetapi belum aman secara struktural jika dua sumber besar terganggu lama," ujar Yayan kepada CNNIndonesia.com, Rabu (23/9).

Risiko tidak berhenti di volume minyak. Yayan menyoroti harga, ongkos angkut, asuransi, dan waktu pengiriman yang ikut terpukul begitu jalur pasokan terganggu.

Perhitungan model ekonominya memperkirakan harga keekonomian BBM naik sekitar 18 persen pada skenario rata-rata. Pada skenario puncak, lonjakannya mencapai 26 persen.

Kenaikan itu melebarkan selisih harga atau beban kompensasi Pertalite yang ditanggung negara. Yayan menghitung beban tersebut membengkak dari kisaran Rp 5.000 menjadi Rp 6.600 per liter pada kondisi terburuk.

Indonesia Timur Paling Rentan

Dampak kenaikan harga tidak merata. Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara disebut sebagai kawasan paling rentan mengalami lonjakan harga tertinggi.

Wilayah-wilayah itu juga berisiko lebih cepat kehabisan stok dibanding daerah yang dekat dengan fasilitas kilang. Faktor jarak dan logistik membuat distribusi ke Indonesia Timur lebih mahal dan rawan terlambat.

Jika gangguan pasokan berlangsung berbulan-bulan, Yayan menilai persoalannya bergeser. Bukan lagi soal berapa hari stok tersedia, melainkan seberapa cepat cadangan bisa diisi ulang.

"Jika gangguan berubah menjadi berbulan-bulan, pertanyaan utamanya bukan lagi berapa hari stok yang tersedia hari ini, melainkan seberapa cepat stok dapat diisi kembali," tegasnya.

B50 Belum Jadi Solusi Penuh

Program biodiesel B50 sudah menunjukkan hasil sebagai bantalan pasokan solar. Meski begitu, Yayan menilai mandatori itu belum bisa diperlakukan sebagai solusi penuh.

Ketergantungan impor bahan bakar fosil memang berkurang, tetapi tantangan tetap ada. Mulai dari kesinambungan pasokan CPO, kualitas FAME, kesiapan mesin, logistik blending, hingga trade-off dengan pangan dan ekspor sawit.

Jalur Ganda ke Ekonomi Domestik

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi melihat krisis global merembet ke dalam negeri lewat dua jalur sekaligus. Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan crude, BBM, dan LPG.

"Dampaknya bisa besar karena Indonesia mengimpor sebagian kebutuhan crude, BBM, dan LPG, sehingga gangguan di negara produsen masuk melalui dua jalur sekaligus: pasokan fisik dan harga," ujar Syafruddin.

Guncangan bergerak dari harga minyak ke nilai tukar rupiah, lalu ke inflasi dan pembengkakan beban subsidi di APBN. Ujungnya menekan biaya logistik, harga pangan, daya beli rumah tangga, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi.

Diversifikasi Pasokan Jadi Kunci

Syafruddin menekankan perlunya memperluas diversifikasi pasokan agar Indonesia tidak terjebak pada ketergantungan baru di satu kawasan. Opsi yang bisa dijajaki mencakup Amerika Serikat, Afrika Barat seperti Nigeria dan Angola, Amerika Latin, serta pemasok Asia dengan surplus produk olahan.

Soal wacana impor minyak dari Rusia, ia menilai langkah itu masih bisa masuk portofolio selama aspek pembayaran, asuransi, logistik, dan kepatuhan sanksi terkelola. Namun, Rusia tidak seharusnya menjadi satu-satunya pengganti Timur Tengah.

Ia juga mendorong percepatan pembangunan Cadangan Penyangga Energi nasional. Tanpa cadangan memadai, ketahanan energi berubah menjadi perlombaan mencari kargo di pasar global yang sedang ketat.

E20 Masih Tahap Awal

Untuk bioetanol E20, Syafruddin menilai implementasinya masih sangat awal. Kebutuhan bensin nasional sekitar 40 juta kiloliter per tahun, sementara E20 membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter etanol.

Kapasitas domestik belum cukup memenuhi skala tersebut secara cepat. Karena itu, ia menempatkan biofuel sebagai bagian dari portofolio ketahanan energi, bukan pengganti seluruh kebutuhan bahan bakar fosil.

Follow porosaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks