ACEH BESAR — Wakil Ketua Harian Dekranasda Aceh Besar, Nurbaiti, menyebut kunjungan tersebut sebagai ruang belajar di luar lingkungan sekolah. Para siswa tidak hanya diperkenalkan dengan proses pembuatan batik, tetapi juga mempraktikkan langsung teknik membatik.
"Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran kokurikuler yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengalaman belajar secara langsung di luar lingkungan sekolah," ujar Nurbaiti di Kuta Malaka, Senin (21/9).
Mengapa Generasi Muda Perlu Mengenal Kerajinan Daerah
Nurbaiti menekankan bahwa keterlibatan generasi muda dalam mengenal kerajinan daerah merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan produk lokal Aceh. Ia berharap para siswa memiliki kepedulian untuk merawat kerajinan lokal setelah mengetahui proses dan nilai di balik sebuah karya.
"Generasi muda perlu mengenal produk kerajinan daerah secara langsung. Dengan mengetahui proses dan nilai yang ada di balik sebuah karya, kita berharap mereka memiliki kepedulian untuk menjaga dan merawat kerajinan lokal Aceh agar tetap berkembang dan dikenal di masa sekarang maupun masa yang akan datang," katanya.
Dekranasda Aceh Besar juga mengapresiasi kunjungan tersebut sebagai ruang bertukar pengetahuan dan kreativitas antara dunia pendidikan dengan pelaku kerajinan. Nurbaiti berharap kunjungan ini dapat menghadirkan ide dan gagasan baru bagi pengembangan Batik Malaka, terutama dari sisi motif, desain, maupun cara memperkenalkannya kepada masyarakat.
Nasionalisme dan Kecintaan pada Produk Lokal
Kepala Sekolah MAN 1 Model Banda Aceh, Dr. Nursiah, mengatakan bahwa pembelajaran di luar kelas ini diharapkan dapat menanamkan rasa nasionalisme sekaligus kecintaan siswa terhadap produk lokal. Menurutnya, pembelajaran secara langsung memberikan pengalaman yang berbeda bagi siswa.
"Kami ingin anak-anak memiliki rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air, termasuk dengan menghargai produk-produk lokal. Melalui kunjungan dan praktik membatik ini, siswa dapat mengenal lebih dekat proses pembuatan batik sekaligus memahami bahwa Aceh memiliki produk kerajinan yang memiliki nilai budaya dan ekonomi," ujar Nursiah.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat memberikan pengetahuan baru kepada siswa dan menumbuhkan kepedulian terhadap keberadaan produk lokal. Dengan melihat, memahami, dan mempraktikkan langsung, siswa diharapkan menjadi generasi yang menghargai dan melestarikan warisan budaya Aceh.