Pencarian

Investasi AI Tembus Rp 24.000 Triliun, Bisakah Dibalikkan oleh OpenAI dan Anthropic?

Jumat, 10 Juli 2026 • 20:10:01 WIB
Investasi AI Tembus Rp 24.000 Triliun, Bisakah Dibalikkan oleh OpenAI dan Anthropic?
Investasi global di bidang AI diperkirakan mencapai Rp 24.000 triliun pada 2026.

ACEH — Pertanyaan soal kapan investasi raksasa di bidang kecerdasan buatan (AI) akan benar-benar menghasilkan keuntungan kembali mencuat. Kali ini angkanya jauh lebih besar, dan risikonya pun ikut membesar hingga ke level ekonomi makro.

Kesenjangan Pendapatan AI Capai Ratusan Miliar Dolar

David Cahn, partner di perusahaan modal ventura Sequoia Capital, pertama kali menghitung besaran investasi AI pada 2023. Saat itu, ia bereaksi terhadap pendapatan GPU Nvidia yang mencapai USD 50 miliar per tahun. Dengan menghitung biaya operasional pusat data dan margin operator, Cahn menyimpulkan dibutuhkan pendapatan USD 200 miliar untuk menutup investasi awal.

Tiga tahun kemudian, angka itu membengkak. Cahn memperkirakan belanja infrastruktur AI pada 2026 mencapai USD 1,5 triliun. "Industri AI harus menghasilkan USD 3 triliun untuk membenarkan semua pengeluaran chip dan pusat data itu," tulisnya dalam analisis terbaru.

Ia bahkan menyebut angka itu mungkin terlalu rendah. Kenaikan biaya memori dan penggunaan chip khusus untuk inferensi akan terus mendorong biaya naik. "Baru-baru ini, pendapatan yang diperlukan per GW belanja modal meningkat tajam karena dinamika hambatan ini dan kenaikan biaya konstruksi," tambah Cahn.

OpenAI dan Anthropic Masih Jauh dari Target

Di sisi lain, pendapatan perusahaan AI terdepan masih jauh dari angka triliunan dolar. Anthropic dikabarkan mencapai pendapatan tahunan berulang (ARR) USD 60 miliar. Sementara OpenAI dilaporkan meraup USD 13 miliar sepanjang 2025, meski pada November 2025 perusahaan menyatakan ARR-nya sudah USD 20 miliar dan diperkirakan terus tumbuh tahun ini.

Jelas masih ada kesenjangan besar yang harus ditutup. Jika digabung, pendapatan kedua perusahaan ini masih kurang dari 3% dari target USD 3 triliun yang dibutuhkan.

Efek Domino Jika Raksasa Teknologi Gagal Balik Modal

Torsten Slok, ekonom kepala Apollo Global Management, menyoroti risiko lain. Dalam catatan terbarunya, ia mengungkapkan bahwa para raksasa cloud—Google, Meta, Microsoft, dan Amazon—memproyeksikan percepatan besar dalam arus kas bebas mereka pada 2028. Artinya, mereka berharap investasi chip yang sudah dibeli akan mulai membuahkan hasil.

Tapi bagaimana jika tidak? Slok mencatat tren yang sudah terlihat: semakin banyak organisasi beralih ke model AI open weight yang lebih murah, seringkali buatan China, bukan model dari laboratorium frontier. Harga token AI secara keseluruhan juga terus turun.

Sam Altman, CEO OpenAI, bahkan mengakui model terbarunya 54% lebih efisien dalam penggunaan token untuk tugas coding. Ini kabar baik bagi pengguna yang khawatir soal biaya agen AI mereka. Namun, ini bisa menjadi kabar buruk bagi perusahaan yang membangun "pabrik token" jika pengguna tidak meningkatkan konsumsi token secara drastis.

"Dengan begitu banyak hal yang bergantung pada sedikit nama, pembayaran yang lebih lambat tidak hanya akan menjadi masalah sektor, tetapi berisiko menjerumuskan ekonomi ke dalam resesi dan S&P 500 ke dalam koreksi," tulis Slok memperingatkan.

Dampak untuk Pengguna dan Pasar Indonesia

Bagi pengguna teknologi di Indonesia, tren ini punya dampak langsung. Semakin ketatnya persaingan harga token AI berarti layanan seperti ChatGPT, Claude, atau Gemini kemungkinan akan terus menawarkan harga lebih murah atau fitur gratis yang lebih banyak. Namun, jika investasi raksasa teknologi gagal balik modal dalam waktu dekat, risiko koreksi pasar saham global bisa berdampak pada harga gadget dan layanan digital di Tanah Air.

Untuk saat ini, pengguna bisa menikmati efisiensi biaya yang didorong oleh persaingan model AI murah. Tapi pertanyaan USD 3 triliun itu masih menggantung: akankah semua chip dan pusat data ini benar-benar terbayar? Jawabannya mungkin baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks