Pencarian

Inflasi Aceh Lampaui Nasional, Akademisi Soroti Gangguan Distribusi Pasca-Banjir Bandang November 2025

Selasa, 07 Juli 2026 • 09:25:31 WIB
Inflasi Aceh Lampaui Nasional, Akademisi Soroti Gangguan Distribusi Pasca-Banjir Bandang November 2025
Banjir bandang akhir 2025 menyebabkan gangguan distribusi dan pasokan barang di Aceh.

BANDA ACEH — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai penyumbang utama inflasi di Aceh. Komoditas seperti beras, cabai merah, serta bensin dan biaya transportasi turut memperkuat tekanan harga.

Gangguan Pasokan Akibat Banjir Bandang Akhir 2025

Prof Hafas menjelaskan bahwa dampak banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025 belum sepenuhnya pulih. Lahan pertanian, jalan, dan jembatan yang rusak mengganggu pasokan dan distribusi barang ke berbagai daerah.

“Aceh juga masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan dari luar daerah untuk sejumlah komoditas strategis,” kata Prof Hafas di Banda Aceh, Senin.

Daya Beli Masyarakat Berisiko Tergerus

Menurut akademisi tersebut, inflasi yang relatif tinggi berpotensi menurunkan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah. Kenaikan harga kebutuhan pokok tidak selalu diikuti peningkatan pendapatan, sehingga kesejahteraan riil warga bisa menurun dan angka kemiskinan berpotensi tetap tinggi di Aceh.

“Dengan langkah yang terkoordinasi antara pemerintah daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pelaku usaha, dan masyarakat, inflasi dapat dikendalikan tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Prof Hafas.

Reformasi Ekonomi Daerah Jadi Solusi Jangka Panjang

Prof Hafas menilai solusi yang diperlukan bukan hanya operasi pasar. Penguatan ketahanan pangan daerah, perbaikan rantai pasok, dan peningkatan produktivitas ekonomi lokal harus menjadi prioritas.

Ia menambahkan, inflasi yang tinggi harus menjadi momentum reformasi ekonomi. Aceh memiliki potensi besar di sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan ekonomi syariah.

“Apabila produktivitas sektor-sektor tersebut ditingkatkan, maka Aceh tidak hanya mampu menekan inflasi, tetapi juga menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” katanya.

Biaya Logistik dan Rantai Pasok Jadi Perhatian

Akademisi itu juga mengingatkan bahwa rendahnya produktivitas, tingginya biaya logistik, transportasi, dan distribusi, serta rantai pasok yang tidak lancar akan terus mengganggu stabilitas harga di Aceh. Sinergi antar-pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci agar inflasi tidak kembali melonjak.

Bagikan
Sumber: m.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks