IDI — Pemerintah Kabupaten Aceh Timur memastikan program pelatihan pupuk cair organik tidak berhenti pada agenda seremonial. Bupati Iskandar Usman Al-Farlaky secara terbuka memperingatkan agar peserta pelatihan benar-benar mempraktikkan ilmunya di sawah dan ladang.
"Saya tidak ingin pelatihan ini hanya selesai di atas kertas. Ilmu yang diperoleh harus dipraktikkan sehingga benar-benar memberi manfaat bagi petani," ujar Iskandar saat membuka pelatihan di Idi, Senin.
Petani Aktif Jadi Syarat Peserta Pelatihan
Bupati meminta ketua kelompok tani selektif dalam mengirim peserta. Hanya petani yang masih aktif menggarap lahan yang boleh mengikuti pelatihan. Langkah ini ditempuh agar bantuan dan program pemberdayaan tepat sasaran.
Menurut Iskandar, keberhasilan sektor pertanian tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah. Keseriusan petani dalam menerapkan teknologi dan inovasi menjadi faktor penentu.
Pupuk Organik untuk Menekan Biaya Produksi
Pelatihan pupuk cair organik ini diharapkan menjadi solusi atas mahalnya pupuk kimia. Dengan membuat pupuk sendiri, petani bisa menekan biaya produksi sekaligus memperbaiki kualitas tanah.
"Pelatihan tidak boleh berhenti sebatas kegiatan seremonial ataupun hanya menjadi agenda rutin di atas kertas," tegas bupati.
Pertanian Aceh Timur Terpukul Banjir
Kondisi pertanian di Aceh Timur masih menghadapi tantangan berat pascabanjir. Sejumlah lahan sawah rusak dan jaringan irigasi di beberapa titik terganggu, menghambat aktivitas tanam petani.
Pemerintah kabupaten saat ini menangani sementara jaringan irigasi yang rusak. Pemkab juga berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar perbaikan permanen segera direalisasikan.
"Pemerintah daerah berharap upaya tersebut mampu mempercepat pemulihan aktivitas pertanian masyarakat pascabencana," kata Iskandar.