ACEH — Susu kental manis sering jadi topping roti, martabak, sampai es buah di rumah. Tapi tahukah ibu, klaim "kaya vitamin" pada kemasan SKM punya batas angka yang diatur BPOM? Panduan berikut menjelaskan cara membaca tabel Informasi Nilai Gizi dan kategori sumber atau tinggi zat gizi sesuai Peraturan BPOM Nomor 1 Tahun 2022.
Susu kental manis (SKM) bukan cuma pelengkap rasa manis dan tekstur creamy pada makanan. Produk ini dibuat dari susu segar sehingga menyumbang asupan protein bagi tubuh. Kandungan vitamin dan mineralnya pun tercantum di kemasan, lengkap dengan persentase Angka Kecukupan Gizi (AKG) per sajian.
Sayangnya, banyak ibu masih bingung membedakan klaim "sumber" dan "tinggi/kaya" zat gizi. Padahal dua istilah ini punya batas angka berbeda yang ditetapkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Kolom persentase AKG menunjukkan kontribusi zat gizi dalam satu sajian produk dibandingkan acuan kebutuhan gizi harian. Angka ini membantu ibu memperkirakan seberapa besar vitamin atau mineral tertentu masuk ke tubuh sekali konsumsi.
Contohnya, satu produk SKM mencantumkan takaran saji 30 gram. Pada tabelnya, vitamin B1 tercatat 15% AKG, vitamin A 10%, vitamin B2 10%, vitamin B6 10%, vitamin B12 10%, dan vitamin D3 8%. Dari sini ibu bisa langsung melihat vitamin apa saja yang terkandung dan seberapa besar kontribusinya.
Ketentuan klaim gizi diatur dalam Peraturan Badan POM Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pengawasan Klaim pada Label dan Iklan Pangan Olahan. Untuk pangan cair, kategori sumber mensyaratkan kandungan minimal 7,5% ALG. Sementara kategori tinggi atau kaya butuh minimal 15% ALG.
Artinya, vitamin atau mineral dengan persentase 7,5% sampai kurang dari 15% masuk kategori sumber. Jika mencapai 15% atau lebih, kandungannya boleh disebut tinggi atau kaya. Angka di bawah 7,5% belum memenuhi batas kategori sumber.
Pada contoh tabel Informasi Nilai Gizi salah satu produk SKM, vitamin B1 dan mineral mangan sama-sama tercantum 15% per sajian. Keduanya masuk kategori tinggi atau kaya.
Vitamin A, vitamin B2, vitamin B6, vitamin B12, vitamin D3, fosfor, dan yodium berada di rentang 8% hingga 10% AKG. Kandungan tersebut termasuk kategori sumber. Ada pula vitamin E, vitamin B3, kalsium, vitamin C, selenium, dan kalium yang persentasenya masih di bawah 7,5% AKG, sehingga belum memenuhi batas kategori sumber.
SKM kerap dipakai sebagai pelengkap, bukan makanan utama, sehingga porsi konsumsinya biasanya kecil. Dengan memahami tabel Informasi Nilai Gizi, ibu bisa menilai apakah klaim pada kemasan benar-benar sesuai kebutuhan gizi keluarga atau hanya tambahan rasa manis.
Perhatikan juga takaran saji dan jumlah sajian per kemasan. Dua produk bisa mencantumkan persentase AKG berbeda meski namanya mirip, tergantung formulasi dan ukuran sajiannya.
Jika anak punya kondisi khusus seperti alergi susu, diabetes, atau kebutuhan gizi tertentu, sebaiknya tanyakan dulu ke dokter atau ahli gizi sebelum menjadikan SKM bagian rutin menu harian. Konsultasi juga penting bila ibu ragu mencocokkan klaim kemasan dengan kebutuhan gizi anak.
Membaca label dengan teliti membuat ibu lebih percaya diri memilih produk. Klaim vitamin dan mineral pada SKM tetap bisa dicek angkanya, kok—cukup bandingkan persentase AKG dengan batas 7,5% dan 15% sesuai aturan BPOM.