ACEH — PT Pertamina (Persero) masih mempertahankan harga BBM nonsubsidi di seluruh SPBU Indonesia per Sabtu, 7 November 2026. Penahanan harga berlaku untuk Pertamax, Pertamax Green 95, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex sejak Rabu, 2 September 2026. Kebijakan ini menahan laju pengeluaran konsumen di tengah gejolak harga minyak dunia.
Paragraf pembuka: Keputusan penahanan harga diambil dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat. VP Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menyatakan penyesuaian harga nonsubsidi belum dilakukan karena pertimbangan tersebut. Harga minyak dunia sendiri bergerak dinamis dalam beberapa pekan terakhir, sehingga keputusan menahan harga menjadi sinyal tersendiri bagi pasar ritel energi dalam negeri.
Merujuk laman resmi Pertamina, harga Pertamax untuk wilayah dengan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) 5 persen, termasuk DKI Jakarta dan sekitarnya, dipatok Rp15.950 per liter. Pertamax Green 95 dijual Rp19.150 per liter, sementara Pertamax Turbo dibanderol Rp19.600 per liter.
Untuk jenis diesel nonsubsidi, Dexlite dan Pertamina Dex juga masih mengacu pada harga periode sebelumnya. Konsumen yang hendak bepergian dapat mengecek harga di SPBU terdekat karena komponen pajak daerah membuat angka di tiap provinsi bisa berbeda.
Kitty menjelaskan, Pertamina mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat sebelum melakukan penyesuaian harga. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan resmi beberapa waktu lalu, tanpa merinci komponen biaya yang dihitung.
Dalam kalimat terpisah, Kitty menegaskan posisi perusahaan: "Adapun untuk BBM nonsubsidi, dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat maka sampai saat ini masih diterapkan harga yang sama dengan periode sebelumnya."
Penahanan harga berlaku untuk seluruh SPBU di Indonesia. Artinya, selisih harga antardaerah sepenuhnya ditentukan oleh besaran PBBKB masing-masing provinsi, bukan oleh perbedaan harga dasar dari Pertamina.
Latar belakang keputusan ini adalah pergerakan harga minyak mentah yang tidak stabil. Dalam sepekan, harga minyak dunia sempat anjlok 16 persen, sementara Brent keluar dari level 100 dolar AS per barel. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar.
Bagi Pertamina, fluktuasi itu memengaruhi struktur biaya pembelian bahan baku. Menahan harga jual nonsubsidi di tengah gejolak global berarti perusahaan menyerap sebagian tekanan margin, setidaknya sampai ada penyesuaian resmi berikutnya.
Di sisi lain, konsumen mendapatkan kepastian biaya bahan bakar untuk perjalanan dan operasional harian. Bagi pelaku usaha kecil yang bergantung pada kendaraan pribadi, harga yang stabil membuat perencanaan pengeluaran lebih mudah.
Pertamina menyarankan konsumen memastikan jenis BBM yang dibutuhkan sesuai spesifikasi kendaraan. Pertamax Green 95 dan Pertamax Turbo berada di segmen harga lebih tinggi, sementara Pertamax menjadi pilihan menengah di antara keduanya.
Harga yang berlaku saat ini telah bertahan sejak 2 September 2026, atau sekitar dua bulan. Belum ada keterangan resmi mengenai kapan penyesuaian berikutnya akan dilakukan.
Penutup: Penahanan harga nonsubsidi memberi ruang bagi konsumen untuk mengatur anggaran transportasi, tetapi juga menandai betapa besar pengaruh harga minyak global terhadap keputusan Pertamina. Sebagai operator ritel energi terbesar di Indonesia, langkah perusahaan menjadi acuan harga bagi pesaing di segmen nonsubsidi.