ACEH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.057 pada akhir Oktober 2026, terkoreksi 16,7% secara bulanan. Aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik mencapai Rp16,88 triliun, dengan reklasifikasi MSCI disebut OJK sebagai salah satu pemicu utama tekanan.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyebut pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) soal reklasifikasi pasar Indonesia masih membayangi dinamika pasar modal domestik. Tekanan itu tecermin dari koreksi indeks sepanjang Oktober yang disertai arus keluar dana asing dalam jumlah besar.
"Masih terjadinya pengumuman MSCI atas reklasifikasi turut pengaruhi dinamika pasar modal, IHSG ditutup di 5.057 per akhir Oktober terkoreksi 16,7 persen mtm dengan net sell investor asing Rp16,88 triliun," ujar Hasan dalam konferensi pers virtual, Kamis (5/11/2026).
Meski investor asing menarik dana besar dari pasar saham, pergerakan di pasar Surat Berharga Negara (SBN) justru berlawanan arah. OJK mencatat investor asing membukukan beli bersih (net buy) Rp9,55 triliun di SBN secara bulanan.
Pola ini menunjukkan asing tidak sepenuhnya meninggalkan aset Indonesia, melainkan menggeser preferensi ke instrumen yang dianggap lebih aman di tengah gejolak ekuitas. Bagi pelaku pasar, pergeseran tersebut menjadi sinyal penting soal persepsi risiko antar-instrumen.
Di tengah koreksi indeks, aktivitas perdagangan saham tetap terjaga. Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) pada Oktober 2026 tercatat Rp16,31 triliun, lebih tinggi dibandingkan September 2026 yang sebesar Rp14,94 triliun.
Dengan demikian, RNTH sepanjang tahun berjalan atau year-to-date (ytd) mencapai Rp20,34 triliun. OJK juga mencatat bid-ask spread terjaga di level 1,52% pada Oktober 2026.
Hasan menegaskan aktivitas pasar tetap berjalan baik, tercermin dari korporasi yang masih memanfaatkan pasar modal sebagai sumber penghimpunan dana dan pertumbuhan basis investor domestik.
Dari sisi basis investor, jumlah investor pasar modal bertambah 1,38 juta secara bulanan menjadi 33 juta investor. Jumlah tersebut tumbuh 64,75% secara ytd, sejalan dengan inisiatif pendalaman pasar dan penguatan ekosistem digital di industri pasar modal.
Pertumbuhan basis investor domestik menjadi penopang yang kerap disorot analis ketika arus dana asing keluar. Namun, skala dana ritel belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan jual asing yang mencapai belasan triliun rupiah.
Nilai penawaran umum di pasar modal mencapai Rp209,77 triliun. OJK mencatat masih terdapat 26 penawaran umum dalam pipeline dengan nilai Rp24,46 triliun.
Hasan menyatakan realisasi penawaran umum hingga akhir tahun akan dipengaruhi dinamika pasar, minat investor, serta pertimbangan momentum. Adapun dana yang dihimpun melalui securities crowdfunding (SCF) per 29 Oktober 2026 tercatat Rp2,09 triliun.
Di segmen pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada Oktober 2026 berada di level 431,5 atau termoderasi secara bulanan. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana per 30 Oktober 2026 tercatat Rp620,14 triliun, turun 2,66% secara bulanan.
Pada produk investasi baru, sejak peluncuran exchange traded fund (ETF) emas pada 10 Agustus 2026 hingga 30 Oktober 2026, tercatat tujuh produk ETF emas dengan total dana kelolaan Rp110,26 miliar.
Bursa karbon mencatat 60 pengguna jasa dengan volume transaksi 1,98 juta ton setara karbon dioksida (CO2e). Akumulasi nilai transaksinya tercatat Rp94,2 miliar.
"OJK akan terus mencermati perkembangan pasar dan mendorong pemanfaatan pasar modal sebagai sumber pembiayaan dengan kualitas keterbukaan informasi," tutup Hasan.