ACEH — Film besutan sutradara asal Jerman, Isabelle Stever, berjudul "I Rarely Wake Up Dreaming" memenangi Ethical Film Award di Tokyo International Film Festival. Penghargaan yang digelar sejak 2023 bersama sponsor Sumitomo Corporation itu menyoroti karya yang mengangkat isu lingkungan, kemiskinan, hingga diskriminasi. Kemenangan film ini memicu perbincangan soal hak kelompok transgender di tengah situasi perang.
Isabelle Stever, yang juga menulis naskah film ini, menggarap "I Rarely Wake Up Dreaming" sebagai proyeksi bersama Jerman dan Ukraina. Film tersebut berlatar Kyiv pada akhir 2021, beberapa bulan sebelum invasi skala penuh Rusia ke Ukraina.
Kisahnya mengikuti Oleh, seorang pria transgender yang berusaha meninggalkan negaranya demi menghindari perang. Upayanya gagal karena jenis kelamin yang tercantum di dokumen resmi tidak sesuai identitasnya.
Juri tahun ini dipimpin aktor Isomura Hayato, peraih dua Japan Academy Film Prize yang juga menjalankan Shizuoka Film Festival di kampung halamannya. Ia didampingi tiga anggota tim humas mahasiswa festival.
Selain "I Rarely Wake Up Dreaming", ada dua nominasi lain yang masuk penilaian. Keduanya adalah "Amadeo and the Hypothetical New World" dari Brasil garapan Brenda Lígia dan Edu Felistoque, serta "Time and Tide" dari Australia yang disutradarai Vee Shi.
Isomura menjelaskan bahwa dewan juri memberi nilai tinggi pada keberanian film ini mengangkat isu gender di tengah perang Rusia-Ukraina. Menurutnya, cerita berfokus pada sepasang kekasih yang identitas, tujuan hidup, dan nilai-nilainya goyah akibat konflik.
Juri berharap film ini ditonton banyak orang dan memicu renungan. "Kami memilihnya dengan harapan banyak orang melihatnya dan meluangkan waktu untuk merenung," kata Isomura seperti dikutip dari laporan festival.
Stever tidak bisa hadir langsung di Tokyo. Ia menerima penghargaan lewat pesan video yang direkam di sela mengajar di sebuah sekolah film.
"Queer bukan hanya merujuk pada LGBTQ+. Istilah itu juga merujuk pada sesuatu yang tidak dinormalisasi," ujarnya. "Dan kita semua tahu, jika semuanya dinormalisasi, kita akan berhenti bernapas."
Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan rezim otokratis yang menuntut warganya patuh pada standar tertentu tanpa pilihan lain. Stever juga menyebut perjuangan warga Ukraina agar "orang-orang di negara itu masih bisa bernapas".
Film-film Stever sebelumnya pernah tayang perdana di Berlinale serta festival di Toronto, Locarno, dan Busan. Dua karya terbarunya ia garap bersama istrinya, novelis dan penulis skenario Ukraina Anna Melikova.
Panitia akan mengirimkan sertifikat dan hadiah uang tunai 200.000 yen atau sekitar 1.270 dolar AS kepada Stever pada waktu mendatang. Penghargaan Etis sendiri baru berusia dua tahun, tetapi posisinya mulai diperhitungkan sebagai penanda karya festival yang punya bobot sosial.