Hujan Deras Picu Banjir di 21 Gampong Pidie Jaya, Warga Khawatir Bencana November 2025 Terulang

Penulis: Fajar  •  Kamis, 29 Oktober 2026 | 10:47:01 WIB
Warga melintasi genangan di permukiman yang terdampak luapan sungai di Pidie Jaya.

PIDIE JAYA — Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya Okta Handipa menyebut luapan Sungai Krueng Ulim menggenangi lima gampong di Kecamatan Bandar Dua pada 25–26 Oktober 2026. Kelima gampong itu adalah Alue Keutapang, Babah Krueng, Pohroh, Alue Mee, dan Blang Kuta.

Air di kawasan Bandar Dua dilaporkan telah surut. Hujan susulan yang mengguyur pada 27–28 Oktober 2026 kembali memunculkan genangan di permukiman warga di dua kecamatan lain, Meurah Dua dan Meureudu.

Enam Gampong di Meurah Dua Terendam hingga Satu Meter

Di Kecamatan Meurah Dua, genangan setinggi 50 sentimeter sampai satu meter dilaporkan terjadi di Gampong Pante Beureune, Mancang, Dayah Usen, Dayah Kruet, Raya, dan Meunasah Jurong Teupin Pukat. Genangan juga melanda Blang Cut, Geunteng, Teungoh, serta sebagian wilayah Gampong Bie.

Sementara di Kecamatan Meureudu, air menggenangi Gampong Beurawang, Manyang Cut, Manyang Lancok, Meunasah Lhok, Masjid Tuha, dan Meunasah Balek. Totalnya, 21 gampong di tiga kecamatan terdampak dalam rentetan hujan sepekan terakhir.

Drainase Tertimbun Lumpur Sisa Banjir Bandang

Warga Kecamatan Meurah Dua, Abdullah (65), menilai genangan berulang bukan hanya akibat curah hujan dan luapan sungai. Saluran pembuangan air di permukiman dinilai belum berfungsi optimal karena normalisasi belum tuntas.

"Belum tuntasnya normalisasi saluran drainase itu, menyebabkan air hujan menggenangi permukiman masyarakat," kata Abdullah kepada PortalNusa.com, Kamis, 29 Oktober 2026.

Abdullah menyoroti potensi luapan dua sungai utama, Krueng Meureudu dan Krueng Ulim, yang dikhawatirkan membawa material sedimen dalam jumlah besar. Saluran air yang masih tertimbun lumpur sisa banjir bandang dinilai menghambat aliran saat hujan deras turun.

Warga Minta Pemerintah Percepat Pemulihan

Kondisi tersebut membuat warga yang masih berupaya memulihkan kondisi pascabencana kembali diliputi kekhawatiran. Abdullah meminta pemerintah bergerak cepat melakukan antisipasi.

"Kami berharap pemerintah segera melakukan antisipasi dan pemulihan agar masyarakat bisa merasa lebih aman dan nyaman setelah mengalami bencana hidrometeorologi," ujarnya.

Bencana hidrometeorologi November 2025 meninggalkan dampak pada saluran drainase dan kawasan rawan banjir di Pidie Jaya. Percepatan normalisasi sungai dan drainase, terutama di Kecamatan Bandar Dua, Meurah Dua, dan Meureudu, menjadi kunci menekan risiko genangan saat hujan deras kembali melanda.

Reporter: Fajar
Sumber: portalnusa.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top