Pasar Cerita Asia di Hollywood Meluas, Lionsgate: Setiap Film Tetap Perjuangan

Penulis: Sutomo  •  Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:17:01 WIB
Presiden Internasional Lionsgate, Helen Lee-Kim, berbicara dalam panel "UTA × Gold House: Hollywood & The Asian Diaspora" di Asian Contents & Film Market, Busan International Film Festival.

ACEH — Presiden Internasional Lionsgate, Helen Lee-Kim, menegaskan bahwa pasar cerita Asia di Hollywood kian terbuka, namun setiap proyek tetap butuh perjuangan ekstra. Pernyataan itu disampaikannya dalam panel "UTA × Gold House: Hollywood & The Asian Diaspora" di Asian Contents & Film Market, Busan International Film Festival. Diskusi tersebut mempertemukan perwakilan Lionsgate, UTA, Gold House Studios, Hybe America Studios, dan East West Bank.

Helen Lee-Kim menyebut pandemi mengubah cara penonton global menikmati film. Meski COVID-19 sempat melumpuhkan industri, kebiasaan menonton film lintas bahasa justru tumbuh selama periode tersebut. Menurutnya, bahasa kini bukan lagi penghalang utama bagi konten Asia untuk menjangkau audiens di luar kawasan.

Lee-Kim mencontohkan "Karoshi", film aksi thriller yang dibintangi Teo Yoo dan disutradarai Takashi Doscher, sebagai gambaran bagaimana talenta Asia dibawa masuk ke produksi Hollywood. Meski begitu, ia menegaskan proyek semacam ini masih menuntut studio dan distributor untuk berani mengambil taruhan kreatif masing-masing.

Parasite dan Squid Game Buka Jalan Baru

David Park dari UTA menyoroti "Parasite" dan "Squid Game" sebagai terobosan yang menunjukkan kemungkinan yang dulu sulit dibayangkan. Kesuksesan keduanya memperluas rute bagi sineas Asia, tanpa harus pindah ke Hollywood dan bekerja dalam bahasa Inggris.

Park juga membahas proyek Korea berjudul "Hope" garapan Na Hong-Jin. Ia menilai proyek itu punya ambisi besar, konsep orisinal, dan daya tarik genre global, dengan aktor Asia di peran utama bersama bintang internasional.

Ia menambahkan "Past Lives" dan "Tokyo Vice" sebagai contoh penceritaan multikultural yang berakar pada pengalaman spesifik. Park berharap lebih banyak kolaborasi semacam itu tumbuh secara organik, dan mengingatkan agar perhitungan soal audiens global tidak mendikte karya.

Gold House Studios dan Hybe America Studios

Christine Yi, presiden Gold House Studios, mengatakan perusahaannya menelusuri berbagai genre tanpa kategori yang ditentukan. Yang terpenting baginya adalah orisinalitas dan perspektif manusiawi yang subjektif.

Minat pada suara-suara baru, kata Yi, tidak menuntut kreator berkompromi atau sengaja menduniawikan materi mereka. Ia menegaskan pendekatan itu tetap mempertahankan keaslian cerita.

Presiden Hybe America Studios, James Shin, menekankan kolaborasi dengan para artis dan tim kreatif Korea saat perusahaan membangun bisnis film dan televisinya. Saat membahas "K-Pop: The Debut", ia menyoroti pentingnya kerja lintas budaya melalui kemitraan kreatif.

Investasi di Asia Tenggara dan Taiwan

Bennett Pozil, executive vice president East West Bank yang membiayai "Crouching Tiger, Hidden Dragon", menyoroti meningkatnya aktivitas investasi di Asia Tenggara. Ia menyebut Taiwan Creative Content Agency (TAICCA) sebagai contoh pendanaan yang disalurkan langsung ke industri, di samping investasi co-production di Singapura dan Thailand.

Pandangan Pozil soal penceritaan lintas batas diamini panelis lain. Film multibahasa dan multikultural dinilai membuka lebih banyak jalur menuju penonton.

"Don't force anything," ujar Pozil. "It has to be authentic."

Diskusi di Busan ini menegaskan satu hal: peluang cerita Asia di Hollywood memang membesar, tetapi jalan menuju layar lebar global tetap menuntut keberanian kreatif dan keaslian cerita.

Reporter: Sutomo
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top