BANDA ACEH — Kepala BNNP Aceh Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., menyambangi Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh untuk membahas penguatan program Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) melalui jalur pendidikan keagamaan. Pertemuan itu menghasilkan sejumlah kesepakatan yang menyasar lembaga pendidikan berbasis agama hingga sekolah umum.
Dua agenda utama yang dibahas adalah penyediaan balai rehabilitasi bagi penyalah guna narkoba dan gagasan Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN) di sekolah serta madrasah. Kedua instansi menilai pendekatan pendidikan dan pemulihan perlu diperkuat di samping penindakan hukum.
Program IKAN akan diterapkan di lembaga pendidikan berbasis keagamaan hingga sekolah umum di seluruh Aceh. Penerapannya didukung pelatihan dan bimbingan teknis bagi ribuan guru madrasah dan pendidik.
Dedy menegaskan materi pencegahan bahaya narkoba harus masuk sejak dini ke ruang kelas. Ia menyebut siswa perlu mengenali risiko narkoba lebih awal dari lingkungan sekolah.
"Lewat program IKAN, kita ingin materi pencegahan dan bahaya narkoba tertanam sejak dini dalam pikiran para siswa, baik di madrasah, pesantren, maupun sekolah umum. Di era yang serba maju ini, anak-anak harus mempelajari bahaya narkoba lebih awal dari lingkungan sekolah," tegas Dedy.
Jangkauan program diperluas lewat jaringan 2.002 pesantren di Aceh. Penyuluh Agama Kemenag Banda Aceh dan Aceh Besar turut dilibatkan, begitu pula komunitas non-Muslim dari kalangan Buddha, Hindu, Katholik, dan Kristen melalui sekolah minggu.
Momentum keagamaan seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW akan dimaksimalkan sebagai sarana penyampaian pesan anti-narkoba kepada masyarakat luas.
Selain kurikulum, BNNP Aceh mendorong kehadiran balai rehabilitasi dengan pendekatan medis dan keagamaan. Dedy menekankan pemulihan penyalah guna narkoba bukan lewat hukuman fisik atau kurungan.
"Pemakai ini tidak boleh hanya ditindak, tetapi harus disembuhkan secara utuh. Kehadiran balai rehabilitasi menjadi sangat penting. Di sinilah mereka mendapatkan pembinaan, pemulihan kesehatan, mental, serta penguatan nilai-nilai agama agar siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik," ujarnya.
Kedua instansi menyepakati tiga langkah aksi tambahan yang menyasar kelompok berbeda. Berikut rinciannya:
Skema tes urine calon pengantin ditempatkan sebagai pintu masuk deteksi dini di tingkat keluarga. Sementara gerakan Pramuka diarahkan menjangkau pelajar di luar jalur madrasah dan pesantren.
Melalui sinergi ini, implementasi program P4GN diharapkan menyasar sektor pendidikan keagamaan dan lingkungan masyarakat secara lebih efektif dan menyeluruh.