ACEH — Kabar ini pertama kali diungkap oleh Automotive News yang mengutip dua eksekutif pemasok komponen untuk kedua model. Penundaan ini bukan sekadar perubahan jadwal kecil—ini sinyal bahwa Stellantis lebih memilih memperlambat peluncuran daripada merilis produk dengan potensi masalah teknis.
Baik Grand Wagoneer Hybrid maupun Ram 1500 REV berbagi arsitektur series plug-in hybrid yang lebih dikenal sebagai extended-range electric vehicle (EREV). Sistem ini mengombinasikan baterai 400-volt dengan mesin V-6 3.6 liter yang berfungsi hanya sebagai generator pengisi baterai—mesin bensin tersebut tidak pernah menggerakkan roda secara langsung.
Konsep ini sebenarnya menarik. Anda mendapatkan sensasi berkendara EV murni tanpa rasa cemas akan infrastruktur charging. Namun, kompleksitas teknis untuk memastikan transisi antara mode baterai dan generator berjalan mulus di berbagai kondisi berkendara rupanya butuh waktu lebih lama dari perkiraan awal. Kedua eksekutif pemasok tersebut mengatakan penundaan dilakukan untuk mengamankan peluncuran yang mulus bagi sistem PHEV anyar ini.
Jeep Grand Wagoneer Hybrid yang awalnya ditargetkan memulai produksi pada Mei tahun ini, kini dijadwalkan baru mulai dirakit pada November 2025. Juru bicara Jeep menyatakan kepada Car and Driver bahwa rencana mereka tetap berjalan sesuai target untuk rilis tahun ini.
Nasib Ram 1500 REV lebih berliku. Truk listrik ini sempat batal total dalam bentuk full electric, dan keputusan tersebut berbarengan dengan penundaan versi EREV yang tadinya disebut Ramcharger. Kini, berdasarkan laporan Automotive News, truk tersebut baru akan hadir pada pertengahan April 2026. Juru bicara Ram mengatakan kepada Car and Driver bahwa rencana mereka masih mengarah pada kedatangan di tahun 2027—kemungkinan merujuk pada tahun model.
Bagi calon pembeli di Indonesia, kabar ini patut dicermati meski kedua model ini tidak dijual resmi di pasar kita. Penundaan produksi enam bulan hingga hampir satu tahun menunjukkan bahwa teknologi EREV—yang dianggap sebagai jembatan antara mobil listrik murni dan kendaraan konvensional—masih menghadapi tantangan signifikan dalam hal kesiapan produksi massal.
Sisi positifnya, keputusan ini menunjukkan Stellantis belajar dari pengalaman. Meluncurkan kendaraan dengan sistem powertrain baru yang belum matang bisa berujung pada recall massal dan kerusakan reputasi yang jauh lebih mahal daripada sekadar menunda jadwal produksi. Konsumen yang sudah memesan kemungkinan akan menerima unit yang lebih matang secara teknis.
Keputusan menunda bukanlah kegagalan—ini justru langkah yang jarang dilakukan pabrikan besar ketika tekanan untuk memenuhi target kuartalan begitu kuat. Pertanyaannya sekarang: apakah Stellantis bisa memanfaatkan waktu tambahan ini untuk benar-benar menyempurnakan sistem EREV-nya, atau justru akan tertinggal semakin jauh dari kompetitor yang sudah lebih dulu menguasai pasar truk listrik seperti Ford F-150 Lightning dan Tesla Cybertruck?