BIREUEN — Peringatan haul keempat Abu Tumin di Kabupaten Bireuen berlangsung khidmat dengan kehadiran sejumlah ulama kharismatik dari berbagai daerah di Aceh. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi antara Pemerintah Aceh, para pimpinan dayah, keluarga besar almarhum, serta ribuan alumni yang tersebar di berbagai penjuru.
Wagub Aceh tiba di lokasi didampingi istri, Mukarramah, yang juga menjabat sebagai Ketua Staf Ahli TP PKK Aceh. Turut hadir Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Aceh, Akkar Arafat, dan Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Misran Fuadi.
Rangkaian doa bersama untuk almarhum diikuti langsung oleh Wagub Fadhlullah. Sejumlah tokoh pesantren tampak hadir, di antaranya Abi Tgk. H. M. Daud Hasbi, Pimpinan Dayah Terpadu Inshafuddin Banda Aceh; Abu H. M. Yunus Adami atau Abu M. Yunus Palda, Pimpinan Dayah Madinatuddiniyah Jabal Nur Paloh Lada, Aceh Utara; Abu Zainuddin Bayu; serta Tgk. H. Athaillah Ishak Al Amiry atau Abu Ulee Titi, Pimpinan Dayah Raudhatul Thalabah Ulee Titi.
Kedatangan rombongan wagub disambut langsung oleh keluarga almarhum, Tu Haidar dan Tu Ahmat, bersama sanak keluarga besar Abu Tumin. Suasana kekeluargaan pun mewarnai jalannya acara yang digelar di kompleks dayah tersebut.
Dalam kesempatan itu, Fadhlullah menyampaikan bahwa sosok ulama seperti Abu Tumin memiliki tempat penting dalam perjalanan pendidikan dan kehidupan keagamaan masyarakat Aceh. Menurutnya, warisan terbesar seorang ulama tidak hanya berupa lembaga pendidikan yang ditinggalkan, tetapi juga ilmu, akhlak, dan keteladanan yang terus hidup di tengah masyarakat.
“Keteladanan, keilmuan, serta pengabdian beliau diharapkan terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus,” ujar Fadhlullah di hadapan para undangan.
Wagub Aceh menekankan pentingnya memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dengan para ulama dan pimpinan dayah. Kolaborasi ini dinilai krusial dalam menjaga nilai-nilai keislaman sekaligus membangun generasi Aceh yang berilmu, berakhlak, dan peduli terhadap masa depan daerah.
Semangat perjuangan para ulama diharapkan menjadi fondasi bagi masa depan Aceh yang semakin Islami dan bermartabat. Nilai-nilai agama, adat, dan kebersamaan yang diajarkan Abu Tumin semasa hidup diyakini akan terus relevan sebagai pegangan hidup masyarakat.
Haul tahunan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum refleksi atas perjuangan panjang seorang ulama dalam membina umat. Dayah Madinatuddiniyah Babussalam yang kini terus berkembang menjadi bukti nyata bahwa ilmu dan pengabdian Abu Tumin tetap hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.