Sepak Bola Aceh Kian Terpuruk: Satu Dekade Tanpa Wakil Timnas, Tak Ada Klub di Liga 1

Penulis: Fajar  •  Minggu, 26 Juli 2026 | 17:56:01 WIB
Persiraja Banda Aceh menjadi satu-satunya wakil Aceh di Liga 2, sementara provinsi itu kehilangan klub di Liga 1 dan Liga 4.

BANDA ACEH — Sepak bola Aceh tengah berada dalam masa surut paling kelam dalam satu dekade terakhir. Tidak ada satu pun klub dari provinsi ini yang tampil di kompetisi kasta tertinggi Liga 1, sementara hanya Persiraja Banda Aceh yang bertahan di Liga 2. Di Liga 4 musim ini, dua wakil Aceh — PSAP Sigli dan Alfarlaky FC Aceh Timur — gugur di babak penyisihan.

Klub Aceh Hilang dari Peta Sepak Bola Nasional

Di level Championship (Liga 2), hanya Persiraja yang masih bertahan. Sementara di Super League (Liga 1), Aceh sama sekali tak memiliki wakil. Begitu pula di Liga 3, tidak ada klub asal Aceh yang berlaga. Pada Liga 4 musim ini, PSAP Sigli dan Alfarlaky FC Aceh Timur gagal bersaing dengan tim dari provinsi lain.

Tahun-tahun sebelumnya, kompetisi level itu di Zona Aceh biasa diikuti sekitar 27 klub. Kini sebagian besar memilih tiarap. Beberapa tim yang dulu getol bertarung malah membubarkan diri. Penyebab utamanya klasik: tak ada uang untuk menghidupkan tim. Setiap berkompetisi, klub juga harus membayar biaya pendaftaran tanpa keringanan dari Asprov PSSI Aceh.

Hanya Segelintir Pemain Aceh Berkarier di Luar Daerah

Absennya pemain Aceh di berbagai level tim nasional menjadi bukti keterpurukan. Sejak era Ismed Sofyan, Aceh praktis tak lagi memiliki wakil tetap di Timnas Indonesia. Di kelompok umur, Timnas U-19 pernah memiliki "Trio Di"—Zulfiandi, Hendra Sandi, dan Miftahul Hamdi—pada 2016. Setelah itu, hanya Rahmat Syawal yang sempat masuk line-up Timnas U-20.

Pemain Aceh yang masih berkarier di klub luar daerah jumlahnya tidak sampai satu kesebelasan. Nama-nama seperti TM Ichsan dan M Fahri (Bhayangkara FC), Fairushy, Ramadan, M Reza (Adhyaksa), Fitra Ridwan, Miftahul Hamdi (PSIS Semarang), serta Rizki Yusuf (Persis Solo) masih bertahan. Namun, mereka hanya berganti-ganti klub setiap musim tanpa ada wajah baru yang muncul dan berkibar.

Pelatih Asal Aceh Juga Minim Kiprah di Level Nasional

Kondisi pelatih tak jauh berbeda. Sangat sedikit pelatih Aceh yang berkiprah di level nasional, apalagi menjadi pelatih atau asisten tim nasional. Selain Fakhri Husaini dan Iwan Setiawan, nyaris tak terdengar kiprah pelatih Aceh di luar daerah. Belakangan muncul nama Muhammad Azhar, mantan kapten PSBL Langsa. Sejak tahun lalu, ia bergabung dengan Unaaha FC, klub asal Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Muhammad Azhar berhasil membawa Laskar Anoa ke babak delapan besar Liga 4 Nasional, meski gagal promosi ke Liga 3. Prestasi itu tetap menjadi catatan sejarah bagi Unaaha FC, namun belum cukup mengangkat pamor pelatih asal Aceh di pentas nasional.

Akar Masalah: Dana dan Pembinaan

Masalah utama yang membelit sepak bola Aceh adalah pendanaan. Klub-klub kesulitan menghidupi operasional, apalagi membina pemain muda. Gelombang naturalisasi pemain keturunan di Timnas Indonesia semakin mempersempit peluang pemain lokal, termasuk dari Aceh. Namun, daerah lain seperti Papua masih memiliki pemain yang dilirik, sementara Aceh bahkan seperti penonton di pinggir lapangan.

Belum ada solusi konkret dari pemerintah daerah maupun Asprov PSSI Aceh untuk membangkitkan kembali gairah sepak bola. Jika tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin Aceh akan semakin tertinggal dalam peta sepak bola nasional.

Reporter: Fajar
Sumber: waspada.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top