10 Makanan Khas Subulussalam Ditetapkan MAA sebagai Kuliner Wajib Lestarikan, dari Delabakh Manuk hingga Pelleng

Penulis: Fajar  •  Sabtu, 25 Juli 2026 | 13:33:31 WIB

SUBULUSSALAM — Sepuluh makanan tradisional khas Kota Subulussalam resmi dikukuhkan oleh Majelis Adat Aceh (MAA) sebagai warisan kuliner yang harus dijaga keberadaannya. Penetapan ini merangkum kekayaan rasa dari dua etnis utama, Singkil dan Pakpak, yang selama puluhan tahun mewarnai budaya setempat. Mulai dari hidangan berat hingga camilan, semua tercatat dalam daftar tersebut.

Hidangan-hidangan ini bukan sekadar santapan sehari-hari. Dalam masyarakat Singkil, misalnya, Delabakh Manuk—ayam panggang dengan kelapa sangrai dan santan—biasa hadir saat bulan Ramadan dan acara adat. Sementara itu, Nakan Lancing dari beras ketan dan daun lancing dipercaya sebagai makanan pemulihan bagi ibu setelah melahirkan. Tradisi semacam itu menunjukkan bahwa kuliner lokal memiliki dimensi sosial dan kesehatan.

Daftar Lengkap: Dari Sambal Tuk-Tuk hingga Pelleng Khas Pakpak

MAA mengelompokkan 10 makanan tersebut berdasarkan bahan dan fungsinya. Sambal Tuk-Tuk menjadi primadona bagi pencinta pedas—biasa disantap bersama ikan asap atau lele sale. Lepat Dagang, jajanan tepung beras dan kelapa yang dibungkus daun pisang, kerap menjadi teman minum kopi atau teh hangat. Di sisi lain, Pelleng—nasi berbumbu khas masyarakat Pakpak—dulu diyakini sebagai hidangan penyemangat para pejuang.

Berikut daftar lengkap 10 makanan khas Subulussalam yang ditetapkan MAA:

  • Delabakh Manuk
  • Nakan Lancing
  • Sambal Tuk-Tuk
  • Nakan Sipokot Lae Santan
  • Ditak Matah (Nditak)
  • Nakan Sayekh
  • Simemalum atau Simanis
  • Lepat Dagang
  • Godenk Sagu
  • Pelleng

Mengapa Momentum Penetapan Ini Penting?

Penetapan oleh MAA bukan sekadar seremonial. Di tengah arus kuliner modern, makanan tradisional seperti Godenk Sagu—olahan sagu yang mengenyangkan—dan Nakan Sayekh yang selalu hadir dalam pertemuan keluarga besar, mulai tergerus. MAA berharap daftar ini menjadi acuan bagi generasi muda dan pelaku UMKM untuk terus memproduksi serta mempromosikan makanan lokal.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Subulussalam, mencicipi hidangan-hidangan ini menjadi cara paling langsung untuk memahami perpaduan budaya Aceh, Singkil, dan Pakpak. Setiap suapan mengandung sejarah dan filosofi yang diwariskan secara turun-temurun. Pemerintah setempat pun diharapkan dapat memasukkan kuliner ini dalam paket wisata daerah.

Ke depan, MAA akan mendata resep dan proses pembuatan masing-masing makanan agar tidak punah. "Kami ingin generasi muda bisa mengenal dan membanggakan kulinernya sendiri," ujar perwakilan MAA Subulussalam dalam keterangannya. Langkah ini juga diharapkan mendorong sertifikasi halal dan pendaftaran kekayaan intelektual komunal bagi makanan khas tersebut.

Reporter: Fajar
Sumber: infoekonomi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top