ACEH — Rencana pemerintah menghadirkan motor listrik buatan dalam negeri diprediksi bakal menghadapi ujian sesungguhnya: kantong konsumen. Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai kondisi ekonomi saat ini belum sepenuhnya kondusif untuk mendorong adopsi massal kendaraan listrik roda dua.
Bank Indonesia masih mempertahankan BI-Rate di level 5,75% demi menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Imbasnya, biaya pembiayaan kredit motor listrik masih relatif mahal. Di saat yang sama, belanja masyarakat menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Survei Konsumen Bank Indonesia pada Juni 2026 memang mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di level optimistis 117,8. Namun, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini dan Indeks Ekspektasi Konsumen sama-sama turun dibanding bulan sebelumnya. Lebih konkret lagi, Survei Penjualan Eceran memperkirakan penjualan ritel Juni kembali terkontraksi 0,8% secara bulanan, setelah pada Mei sudah minus 1,5%.
"Pasar motor listrik nasional tetap ada, tetapi konsumen akan sangat rasional: mereka akan membeli jika harga terjangkau, biaya pakai lebih murah daripada motor bensin, pengisian daya mudah, layanan purna jual kuat, dan kualitasnya terbukti," kata Josua kepada Bloomberg Technoz, Jumat (24/7/2026).
Pernyataan ini menegaskan bahwa kampanye ramah lingkungan saja tidak cukup. Konsumen Indonesia, terutama di segmen entry-level, sangat sensitif terhadap total cost of ownership. Motor listrik harus bisa membuktikan keunggulan biaya operasional secara langsung dibanding motor bensin 110-125 cc yang sudah mapan.
Josua menambahkan bahwa kesiapan ekosistem pendukung menjadi faktor kritis kedua setelah harga. Stasiun pengisian baterai yang terbatas dan jaringan servis yang belum merata bisa menjadi hambatan adopsi, terutama di luar Jawa. Pabrikan nasional punya pekerjaan rumah besar untuk membangun kepercayaan konsumen sebelum volume penjualan bisa ditingkatkan secara signifikan.