Kantor Ahmadinejad Bantah Tuduhan Kolaborasi dengan Israel, Sebut Laporan The New York Times Absurd

Penulis: Yasir  •  Rabu, 15 Juli 2026 | 22:00:01 WIB
Kantor Ahmadinejad membantah tuduhan The New York Times soal kolaborasi dengan Israel dan menyebut laporan itu absurd.

ACEH — Kantor Ahmadinejad menyebut tuduhan yang dimuat The New York Times itu tidak berdasar dan bagian dari skenario musuh untuk mengganggu stabilitas Iran. Tuduhan tersebut menyebut Ahmadinejad bertemu dengan seorang pemimpin Mossad di Budapest, Hongaria, untuk membahas dukungan politik dan imbalan jasa intelijen.

Bantahan Tegas dan Bukti Visual Aktivitas Sehari-hari

"Kurangnya kredibilitas surat kabar tersebut dan absurditas skenario yang disajikannya berarti bahwa surat kabar itu tidak layak untuk ditanggapi," demikian pernyataan kantor Ahmadinejad. Mereka menegaskan mantan presiden itu tetap menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal.

Sebagai bukti, kantor Ahmadinejad membagikan foto-foto terbaru yang menunjukkan dirinya berjalan di jalanan dan bertemu dengan sejumlah pejabat Iran. "Kami mengumumkan kepada rakyat Iran yang terkasih bahwa putra mereka yang setia tetap teguh dan bermartabat," tulis pernyataan yang diunggah di Telegram itu.

Latar Belakang Tuduhan di Tengah Perang Intelijen

Laporan The New York Times yang bersumber dari kalangan AS, Israel, dan Iran, juga mengklaim agen Israel sempat memindahkan Ahmadinejad dari Tehran ke rumah aman sebagai bagian dari rencana perubahan rezim. Tuduhan ini muncul di tengah meningkatnya aksi penangkapan dan eksekusi terhadap puluhan warga Iran yang dituduh memata-matai Israel sejak perang meletus pada Juni 2025.

Kasus ini juga menyusul spekulasi berbulan-bulan soal kesetiaan Komandan Pasukan Quds IRGC, Brigjen Esmail Qaani, yang berulang kali dipertanyakan dalam laporan yang belum terverifikasi. Pembunuhan sejumlah tokoh militer dan politik senior, termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, menunjukkan betapa dalamnya penetrasi intelijen Israel di Iran.

Rekam Jejak Ahmadinejad: Populis Garis Keras yang Terpinggirkan

Ahmadinejad, yang menjabat sebagai presiden dari 2005 hingga 2013, dikenal sebagai tokoh populis garis keras. Ia mempercepat program nuklir Iran dan kerap mengisyaratkan pembangunan senjata nuklir. Kebijakan ekonominya disebut melemahkan rial Iran, sementara masa jabatannya diwarnai tuduhan pelanggaran hak asasi manusia.

Pemilihannya kembali pada 2009 memicu protes Gerakan Hijau, demonstrasi terbesar dalam sejarah Iran saat itu. Setelah lengser, ia dua kali gagal mencalonkan diri—pada 2017 dan 2021—setelah dikritik oleh mendiang Pemimpin Tertinggi Khamenei dan didiskualifikasi oleh otoritas pemilu. Ia juga sempat mendaftar pada pemilu 2024 usai kematian Presiden Ebrahim Raisi dalam kecelakaan helikopter.

Pada 2023, Ahmadinejad dikenai sanksi oleh Amerika Serikat terkait penahanan warga negara AS di penjara Evin, Teheran. Tuduhan baru ini, jika terbukti, akan menjadi pertama kalinya ia secara langsung dituding berkolaborasi dengan Israel dalam skenario politik.

Reporter: Yasir
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top