ACEH — Kebakaran yang melanda TPA Jatiwaringin memasuki hari kesepuluh dengan dampak kesehatan yang mulai terlihat jelas. Dinas Kesehatan setempat mencatat sedikitnya 61 warga yang bermukim di radius satu kilometer dari lokasi kebakaran mengalami gejala ISPA. Keluhan yang dominan meliputi batuk, sesak napas, dan iritasi tenggorokan akibat paparan asap pembakaran sampah.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangerang melaporkan bahwa tim gabungan berhasil memadamkan 95 persen area yang terbakar. Namun, titik-titik api masih ditemukan di lapisan sampah yang dalam, menyulitkan proses pendinginan total. Petugas terus menyemprotkan air dan foam secara bergilir untuk memastikan api tidak kembali menyala.
Kendala utama yang dihadapi adalah akses jalan yang sempit di sekitar TPA serta volume sampah yang masih terbakar di bawah permukaan. Proses pemadaman diperkirakan masih memakan waktu beberapa hari ke depan.
Pemerintah Kota Tangerang telah mendirikan posko kesehatan darurat di tiga titik pengungsian. Petugas medis melakukan pemeriksaan gratis dan membagikan masker kepada warga yang terdampak. "Kami fokus pada deteksi dini dan pengobatan bagi pasien ISPA agar gejalanya tidak memburuk," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dalam keterangan resmi kemarin.
Selain ISPA, tim medis juga mewaspadai potensi penyakit kulit dan gangguan pernapasan kronis pada kelompok rentan seperti lansia dan balita. Warga diimbau untuk segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan kesehatan.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Api pertama kali terlihat di area timur TPA pada dini hari sepuluh hari lalu dan dengan cepat meluas karena hembusan angin kencang. Belum ada kesimpulan apakah kebakaran dipicu oleh faktor alam, kelalaian, atau unsur kesengajaan.
TPA Jatiwaringin sendiri merupakan salah satu tempat pembuangan akhir utama di kawasan Tangerang Raya dengan volume sampah harian mencapai ratusan ton. Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan pengelolaan sampah di daerah penyangga Jakarta.