BANDA ACEH — Fenomena ini terjadi setelah harga emas mengalami fluktuasi dalam enam bulan terakhir. Para pedagang mencatat, daya beli konsumen justru meningkat signifikan saat harga berada di titik terendah.
Pedagang emas di Banda Aceh, Daffa, mengungkapkan bahwa penurunan harga langsung berdampak pada volume transaksi di tokonya. Ia menyebut hampir seluruh pengunjung yang datang memanfaatkan momen tersebut.
“Kalau harga turun seperti sekarang, pembeli memang lebih ramai. Sekitar 90 persen yang datang memilih membeli emas,” kata Daffa.
Harga emas perhiasan pada hari itu tercatat Rp7.530.000 per mayam, turun tipis dari posisi sehari sebelumnya yang mencapai Rp7.550.000 per mayam. Jika sudah termasuk ongkos pembuatan, harganya menjadi Rp7.730.000 per mayam.
Daffa menjelaskan, pergeseran pola pikir masyarakat menjadi faktor utama di balik tingginya minat beli. Warga kini tidak lagi membeli emas semata untuk perhiasan, tetapi juga sebagai instrumen investasi.
“Dalam enam bulan terakhir harga emas memang naik turun. Tetapi daya beli tetap meningkat karena masyarakat sudah memahami bahwa emas merupakan aset yang aman untuk investasi,” ujarnya.
Menurutnya, pemahaman ini membuat masyarakat tetap percaya diri membeli emas meskipun harga sedang bergejolak. Emas dinilai sebagai safe haven atau tempat berlindung yang relatif stabil di tengah ketidakpastian ekonomi.
Para pedagang menilai, tren ini menunjukkan bahwa literasi keuangan masyarakat Banda Aceh mulai meningkat. Pembelian emas kini dianggap sebagai bentuk penyimpanan nilai jangka panjang, bukan sekadar konsumsi.
Daffa menambahkan, kondisi ekonomi yang dinamis justru mendorong warga untuk lebih cermat dalam mengelola aset. “Mereka sadar, emas bisa jadi cadangan yang mudah dicairkan kapan saja,” pungkasnya.