ACEH — Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Sejak awal 2026, China telah dilanda serangkaian hujan lebat, banjir, kekeringan, dan gelombang panas. Memasuki Juni, beberapa daerah aliran sungai utama di China selatan dan tengah mengalami banjir, sementara wilayah utara masih bergulat dengan kekurangan air dan kekeringan lokal.
Pertemuan yang dipimpin langsung oleh pemimpin tertinggi China itu menekankan bahwa keselamatan jiwa masyarakat adalah prioritas mutlak. “Kami harus mengorganisir evakuasi tepat waktu dan tegas dari daerah berbahaya untuk mencegah hilangnya nyawa dalam jumlah besar,” demikian pernyataan resmi yang dirilis setelah pertemuan.
Pemerintah daerah diminta meningkatkan akurasi pemantauan dan prakiraan cuaca. Langkah ini krusial mengingat risiko transisi cepat dari kekeringan ke banjir dan sebaliknya yang kini semakin sering terjadi.
Politbiro secara khusus menyoroti keamanan proyek infrastruktur utama dan proyek konstruksi yang sedang berlangsung selama musim hujan. China juga perlu memastikan keamanan pengendalian banjir untuk sungai dan danau besar, serta memperkuat pengelolaan ruang drainase banjir.
“Perkuat perlindungan sistem infrastruktur yang melayani produksi pertanian,” demikian bunyi instruksi lain dari pertemuan tersebut, menandakan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan nasional di tengah cuaca ekstrem.
Dalam hal tanggap darurat, China membutuhkan peningkatan efisiensi operasi penyelamatan, bantuan, dan pemulihan bencana. Pemerintah pusat meminta persiapan yang memadai dari personel, peralatan, dan perbekalan, serta peningkatan pengerahan pasukan lebih awal ke daerah rawan.
Pemerintah daerah juga diwajibkan memastikan kondisi kehidupan dasar bagi masyarakat di daerah yang terkena bencana. “Alokasikan sumber daya ke tingkat akar rumput dan perkuat pasukan garda terdepan untuk meningkatkan kapasitas pencegahan dan mitigasi bencana di tingkat lokal,” tegas pernyataan Politbiro.
Pertemuan 30 Juni itu sendiri merupakan respons langsung terhadap situasi darurat yang sudah berlangsung. Dengan puncak musim hujan yang masih akan berlangsung, risiko terjadinya banjir dan kekeringan secara bersamaan dinilai semakin tinggi. Langkah ini menjadi sinyal bahwa Beijing mengambil pendekatan proaktif, alih-alih reaktif, dalam menghadapi bencana iklim yang diproyeksi akan memburuk.