BANDA ACEH — Dalam industri kimia, cairan sisa pengolahan garam yang disebut bittern dapat diolah menjadi bahan dasar pembuatan berbagai senyawa untuk kebutuhan produksi kertas, deterjen, pupuk, hingga campuran produk perawatan kulit. Di tengah masyarakat Aceh, zat ini lebih akrab disebut ie kuloeh.
Sejak turun-temurun, nenek moyang telah memanfaatkannya sebagai ramuan tradisional: dioleskan pada bagian tubuh yang terasa kaku, nyeri, kebas, atau gatal. Namun, seiring kemajuan teknologi kesehatan, pengetahuan dan kebiasaan ini perlahan mulai terlupakan.
Aceh telah lama dikenal sebagai wilayah penghasil garam rakyat, bahkan jauh sebelum masa penjajahan kolonial Belanda. Letaknya yang membentang di sepanjang pesisir memberikan akses mudah terhadap bahan baku utama, yaitu air laut. Hingga kini, Aceh menjadi satu-satunya sentra produksi garam di Pulau Sumatera.
Secara tradisional, masyarakat umumnya membuat garam melalui proses perebusan air laut hingga mengkristal. Kini, banyak petambak mulai menerapkan sistem penjemuran dalam ruang terowongan yang dilapisi membran plastik geomembran dan plastik tahan sinar ultraviolet. Baik melalui perebusan maupun penjemuran, setiap proses pembuatan garam menghasilkan dua produk utama: butiran garam dan limbah cair bittern.
Berdasarkan laporan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Aceh, garam yang dihasilkan telah dimanfaatkan dan didistribusikan dengan sangat baik. Sebaliknya, limbah cair yang melimpah ini sama sekali belum tersentuh pasar dan belum dikelola secara optimal.
Bittern berwujud cairan pekat, tampak bening atau agak keruh tergantung metode pembuatan garam. Cairan ini tersedia dalam jumlah sangat banyak dan diperoleh dengan biaya sangat murah. Sayangnya, selama ini ia kerap dibuang begitu saja karena keterbatasan informasi dan pengetahuan petambak mengenai nilai gunanya.
Padahal, bittern menyimpan kekayaan mineral tinggi. Kandungan ini tertinggal dalam cairan karena tidak ikut mengkristal saat pembentukan garam. Di dalamnya terkandung unsur-unsur penting seperti magnesium, natrium, kalsium, dan kalium dalam kadar pekat.
Magnesium berperan krusial dalam menjaga kinerja otot, menyeimbangkan kadar elektrolit, serta memperkuat kepadatan tulang. Kalsium yang melimpah menjadi unsur pokok untuk kekuatan tulang dan gigi. Natrium sulfat bermanfaat sebagai bahan baku industri kimia, farmasi, pembuatan kertas, hingga deterjen. Kalium berfungsi menjaga keseimbangan cairan tubuh serta menunjang kesehatan sistem saraf dan kerja otot.
Dalam industri kimia, bittern dapat diolah menjadi bahan dasar berbagai senyawa untuk produksi kertas, deterjen, hingga pupuk. Di bidang kosmetik, kandungan mineralnya menjadikan bittern cocok dicampurkan ke dalam produk perawatan kulit. Untuk sektor pertanian, unsur magnesium, kalsium, dan kalium dapat dimanfaatkan sebagai penyusun pupuk guna meningkatkan kesuburan tanah.
Dalam kehidupan sehari-hari, pemanfaatan bittern telah lama dikenal dalam industri pangan, khususnya sebagai bahan penggumpal protein pada proses pembuatan tahu. Ia juga mulai digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan masker wajah. Berbagai penelitian membuktikan bahwa cairan ini dapat diolah menjadi pupuk majemuk berkualitas.
Lebih jauh lagi, bittern memiliki potensi besar sebagai solusi ramah lingkungan. Dalam industri batik yang selama ini menghadapi tantangan pencemaran limbah cair, bittern dapat berperan sebagai koagulan alami untuk mengendapkan zat pencemar. Dengan segala potensi yang dimiliki, tantangan ke depan adalah bagaimana menjembatani kesenjangan informasi antara petambak garam dan industri pengolahan agar limbah yang selama ini terbuang bisa bernilai ekonomi tinggi.